Perhatian pemkot Samarinda terhadap sektor pariwisata dan budaya amat diragukan

Seperti telah diketahui bahwa antara negara kita dan  neregi jiran Malaysia sering terjadi ketegangan yang di sebabkan oleh klaim Malaysia atas seni dan budaya Indonesia.  Bila kita cermati sebenarnya pemerintah kita tidak pernah mempersoalkan  claim Malaysia tersebut, pemerintah terkesan enggan dan tidak peduli.

Pemerintah baru akan bereaksi saat terjadi  kemelut di tengah masyarakat, saat terjadi protes-protes dari masyarakat dan kalangan pencinta seni dan budaya.  Inilah kenyataan pahit yang harus ditelan oleh rakyat  Indonesia. Seni dan budaya dianggap sektor yang tidak menghasilkan rupiah, harga diri dan identitas bangsa sudah tidak diperlukan lagi dan dianggap bernilai rendah. Investasi dan bisnis dianggap sebagai dewa.

Demikian pula yang terjadi di kota Samarinda, sebagai warga Samarinda rasanya saya sedih dan prihatin karena kota yang samar samar tapi indah ini, kota yang kaya raya dengan hasil tambang, kota yang kaya raya dengan hasil hutan, kota yang kaya raya dengan hasil perkebunan…. namun……. kota ini tidak beridentitas, seni dan budaya daerah terabaikan bahkan boleh dikatakan tercampakkan….. seni dan budaya tinggal legenda… hanya dipakai sebagai simbol-simbol di berbagai sudut kota.

Para pelaku seni dan budaya dianggap tiada,  dianggap tidak berguna, dan seolah hanya dianggap sebagai pelengkap penderita saja.

Kita bayangkan Desa Adat Budaya Dayak Kenyah Pampang… yang konon menjadi desa binaan dinas pariwisata kota dan konon dijadikan sebagai desa wisata oleh pemerintah kota, namun dalam kenyataannya hanyalah rumor belaka.

Masyarakat Pampang dibiarkan terlunta-lunta, tidak pernah dibina dan dibiarkan tumbuh apa adanya.  Para pelaku seni dan budaya yang dengan tekun melestarikan Adat seni tradisional, terseok dan terlunta berjalan sendirian tanpa arah dan tujuan.

Atraksi seni budaya yang diselenggarakan tiap hari minggu swadaya masyarakat hanya hidup dengan mengandalkan penghasilah dari Tiket masuk seharga Rp 15.000,- , tanpa ada subsidi dari Pemerintah daerah. Dari hasil penjualan tiket tersebut setiap penari yang tampil hanya akan mendapatkan honor sekitar Rp 10.000,-  s/d  Rp 20.000,- per bulan.

Kita bisa membayangkan betapa murahnya nilai seni dan budaya, dimana campur pemerintah untuk mempertahankan identitas bangsanya??, dimana campur tangan pemerintah daerah untuk mempertahankan identitas daerahnya?? Yang lebih menyedihkan lagi dalam kondisi yang amat memprihatinkan tersebut, ternyata dinas pendapatan daerah MASIH TEGA memungut restribusi pajak hiburan terhadap atraksi seni mingguan tersebut!!!!!. Karena keserderhanaan cara berfikir masyarakat Pampang, maka merekapun nurut nurut saja.

Dari kenyataan ini penulis tidak akan mengambil kesimpulan, namun para pembaca bisa menyimpulkan sendiri, seberapa peduli Pemkot Samarinda terhadap pengembangan sektor pariwisata dan budaya.

Negara Jepang yang sudah amat maju dalam ekonomi dan teknologi saja masih amat menjunjung tinggi adat dan budayanya,…. ironis….. kita yang masih hidup di daerah… kiri kanan masih tertutup bukit & pepohonan namun kita sudah lupa akan asal usul kita.

Semoga…semoga….dan semoga….kita tidak dimakzulkan oleh para leluhur kita, semoga kita selalu ingat dan eling dari mana kita berasal…. mari bangun Samarinda… mari bangun Identitas kota….dan menjadi lebih baik… ( oleh : frans aso )

Published in: on Maret 6, 2010 at 6:17 am  Comments (1)  

Artis dan Presenter Yoanita berwisata ke Pampang

Minggu, 11 Oktober 2009.  Jam 14.00 s/d 15.00 wita , Pampang lokasi yang terletak di samarinda utara, jalan samarinda -Bontang, dan hanya 20 menit dari terminal Lempake Samarinda.

Joanita PampangSetiap hari minggu  desa Pampang semakin ramai dikunjungi wisatawan. Puluhan Turis asing yang datang kelihatan amat antusias dan kagum dengan seni Budaya Dayak, yang sudah langka ini. Pada minggu ini Balai Lamin Adat Pampang dipenuhi oleh sekitar 400 pengunjung, tempat duduk yang tersedia sudah tidak mencukupi lagi sehingga sebagian dari pengunjung rela berdiri.

Tak kalah menarik perhatian adalah dengan hadirnya Artis dan presenter kondang Yoanita bersama kru. Tak pelak lagi para pengunjung yang datang berebut untuk minta foto bersama Yoanita. Dan dengan senyum dan ramah Artis Yoanita mau meladeni permintaan para pengunjung tersebut.

Memang Pampang adalah Lokasi Etnik yang memiliki magnet kuat bagi para petualang dan wisatawan, mengundang beribu tanya dan rasa penasaran. Pengunjung biasanya ingin secara langsung melihat Lamin (rumah panjang suku dayak) yang biasanya hanya dijumpai di pedalaman hutan Kalimantan.  mereka juga ingin melihat secara langsung kehidupan & adat Istiadat Suku Dayak.  Sehingga tempat yang paling tepat dan paling dekat dikunjungi adalah desa Pampang.

Selain  Artis, Turis Asing, Peneliti dan  Pekerja Seni , pihak yang sering menyaksikan secara khusus atraksi seni di Pampang adalah Instansi dari kesatuan TNI, Kejaksaan, Bank Mandiri. Ironisnya justru instansi yang terkait dengan pariwisata seperti Dinas Pariwisata maupun penda masih terkesan malu malu mengembangkan daerah ini secara profesional.

frans asOBagi para pengusaha di Kaltim,  di Jakarta atau siapa saja yang tertarik mengembangkan Pampang menjadi tempat wisata budaya yang spektakuler seperti halnya di Bali atau Thailand, bilamana dibutuhkan penulis dengan senang hati bersedia membantu untuk memediasi dengan masyarakat Adat.  

“Lebih baik memulai walaupun hal yang kecil, daripada tidak berbuat sama sekali”. (oleh frans aso )

—> Every day of the week Pampang increasingly crowded villages visited by tourists. Dozens of foreign tourists who came seemed very enthusiastic and impressed with the art of Dayak culture, which is rare. In this week Balai Adat Pampang Lamin met by about 400 guests, seats are available are not sufficient anymore, so some of the visitors are willing to stand.

No less interesting is the presence of famous artist and presenter with a crew Yoanita. No doubt the visitors who came to scramble to get photos with Yoanita. And with a smile and friendly Artists will serve Yoanita the visitors request.

It is the location Pampang Cloudy with a powerful magnet for travelers and tourists, inviting thousands of questions and curiosity. Visitors usually want to live to see Lamin (Dayak long house) is usually only found in Borneo forest interior. they also want to see directly the life & indigenous Dayak tribes Istiadat. So that the most appropriate place and the closest village to visit is Pampang.

Apart Artist, Foreign Tourism, Research and Art Workers, who often witnessed the special attraction is the art of Pampang Institution of military unit, Attorney General, Bank Mandiri. Ironically it related agencies such as the Office of Tourism tourism and income still impressed shame shame this area to develop professionally.

Anyone entrepreneurs in East Kalimantan, in Jakarta or anyone interested in developing Pampang become a place of spectacular cultural tourism as well as in Bali or Thailand, if needed writers would gladly help to mediate with Indigenous communities.

“It’s better to start small though, than not doing at all”. (by frans aso)

Published in: on Oktober 15, 2009 at 3:05 am  Tinggalkan sebuah Komentar  
Tags: , , , , , , , ,

Ritual Pemakaman Kepala Adat

PAMPANG, 20 menit dari terminal Lempake Samarinda Utara, Kalimantan Timur.

Kepala Adat / Kepala Suku, dalam tradisi kehidupan masyarakat Dayak menjadi sosok yang lebih dihormati daripada tokoh pemerintahan seperti RT atau Lurah.  Kepala Adat menjadi tokoh sentral dalam kehidupan masyarakat adat.

Segala permasalahan yang timbul ditengah masyarakat, akan terselesaikan apabila kepala adat turun tangan. Biasanya Kepala Adat akan dipilih dari orang yang memiliki keturunan bangsawan.

Penghormatan terhadap kepala Adat akan dilakukan oleh warga bahkan sampai dengan saat kepala Adat tersebut meningal dunia. Upacara dan ritual adat akan dilakukan secara besar besaran melibatkan seluruh warga.  Hal tersebut masih terjadi di desa budaya Pampang.

Pada saat kepala Adat meninggal dunia,  akan disemanyamkan di Balai Lamin Adat, jenasah akan disemayamkan selama beberapa hari dengan tujuan menunggu kedatangan sanak keluarga dari berbagai daerah di pedalaman Kaltim. Selama berhari-hari masyarakat secara bergotong royong bahu membahu mempersiapkan tempat pemakaman, upacara pemakaman dan peti jenasah.  Peti jenasah dibuat dari gelondongan kayu ulin besar yang di beri lubang ditengahnya dan bagian luarnya akan diukir.  Sementara di lokasi pemakaman disiapkan rumah  dari kayu ulin beratap sirap untuk melindungi lubang kubur, juga disiapkan nisan terbuat dari gelondongan kayu ulin yang diukir.

Pada waktu yang telah dijadwalkan , jenasah/peti jenasah  akan diletakkan diatas rangkaian puluhan batang bambu dan diangkat oleh ratusan warga. Ritual acara pemakaman akan dipimpin oleh orang khusus dan beberapa pendeta. Selama arak-arakan akan diiringi oleh warga dan pasukan perang dengan pakaian adat lengkap.  (oleh frans aso )

Makam—-> Pampang, 20 minutes from the terminal Lempake North Samarinda, East Kalimantan.

Head Ceremony Chieftains, in the tradition of the Dayak community life figure who is more respected than the government figures such as RT or Lurah. Traditional head into the central figure in the lives of indigenous peoples.

Any problems that arise in the middle of society, will be resolved if the chiefs to intervene. Traditional Head will usually be chosen from those who have royal blood.

Respect for customary chief would be carried out by people even up to the head of the Indigenous meningal world. Customary rites and rituals will be performed on a large scale involving all citizens. This is still happening in villages Pampang culture.

At the time of death Indigenous head, will in the Central disemanyamkan Indigenous Lamin, the body would rest for a few days with the goal waiting for the relatives of the various regions in the interior of East Kalimantan. For days the community work together hand in hand to prepare the cemetery, funeral and casket body. Casket body is made from ironwood logs large hole in the berries and inner be carved on the outside. While the location of the funeral home prepared ironwood shingle roofs to protect the grave, also prepared headstone made of logs carved ironwood.

At the scheduled time, the body / casket will be placed above the body of a series of dozens of bamboo stems and appointed by the hundreds of citizens. Funeral ritual will be led by a special person and a priest. During the procession will be accompanied by the citizens and the army with full traditional costume. (by frans aso)

Published in: on Oktober 1, 2009 at 1:15 pm  Tinggalkan sebuah Komentar  
Tags: , , ,

Generasi muda Dayak

latihan tari perang suku kenyah

latihan tari perang suku kenyah

Minggu, 27 September 2009, Pampang Samarinda Kaltim, 20 menit dari terminal Lempake.

Minggu sore ini terasa berbeda dengan berkumpulnya puluhan pemuda-pemudi Suku Dayak Kenyah Pampang.  Mereka berkumpul didepan balai lamin Adat untuk melakukan gladi bersih sebuah tarian massal yang akan segera mereka lakukan disebuah acara di kota Samarinda.

Tampak sibuk memberikan latihan dan instruksi dua orang tokoh kesenian yang mewakili tokoh tua dan tokoh muda.  Mereka adalah Martinus usat mewakili tokoh muda dan Amai Pujang mewakili tokoh tua.

Semangat generasi muda Dayak Pampang dalam melestarikan budaya ini patut diacungi dua jempol, mengingat masih minimnya perhatian dari pemerintah daerah dalam mensupport desa Budaya Pampang.  ( oleh frans aso )

gadisSunday, September 27, 2009, Pampang Samarinda East Kalimantan, 20 minutes from the terminal Lempake.

Sunday this afternoon felt different with the gathering of dozens of young Pampang Dayak Kenyah tribe. They gathered in front of the hall Lamin Ceremony rehearsal for a mass dance which will soon show they do in the city  Samarinda.

Look busy providing training and instruction of two figures representing the arts of old and young leaders. They are represented usat Martinus young people and leaders representing Pujang Amai old.

The spirit of the young generation in preserving the Dayak culture Pampang deserve  thumbs praised, considering the lack of attention from local governments in supporting village Pampang Culture. (by frans aso)

Published in: on September 28, 2009 at 1:43 pm  Comments (1)  
Tags: , , ,

Tarian tradisional Dayak Kenyah

Panglima Sumpit Menari

Panglima Sumpit Menari

Saksikan hanya di Balai Lamin Adat Pampang Samarinda Kaltim, 20 menit dari terminal lempake, setiap hari minggu jam 14.00 s/d 15.00 wita

Tari MENYUMPIT / Tari BERBURU , adalah tarian yang langka. tarian ini amat jarang dipentaskan, karena dalam tarian ini selain kepandaian dalam menari, namun penari juga harus memiliki keahlian dalam menggunakan senjata Tradisional SUMPIT.

Tarian Sumpit yang kadang dipentaskan, biasanya hanya sekedar tarian dengan membawa-senjata sumpit, namun berbeda dengan di Pampang. Tarian sumpit di Pampang selain semuah rangkaian tarian, juga akan dipertontonkan cara menggunakan senjata Sumpit tersebut secara nyata. Anda akan melihat dengan mata kepala sendiri dimana aanak sumpit menancap di balok-balok kayu yang keras.

Ini adalah tarian langka, yang hanya bisa dilihat di Pampang, dan setiap menyaksikan tarian ini penonton akan senantiasa tegang dan heboh.  Situasi akan semakin hebah jika Panglima Sumpit sendiri yang melakukan tarian tersebut. jika beruntung anda bisa berfoto dengan Panglima Sumpit.  (oleh frans aso )

—-> Witnessed only in Central Lamin Samarinda Kaltim Indigenous Pampang, 20 minutes from the terminal lempake, every Sunday at 14:00 s / d 15:00 wita

SUMPIT Dance / Dance BERBURU, is a rare dance. This dance is very rarely performed, because in this dance than skill in dancing, but dancers must also have expertise in using weapons Traditional SUMPIT.

Chopsticks are sometimes dance performed, usually only dance with chopsticks weapons, but unlike in Pampang. Pampang chopstick dance in the dance circuit in addition semuah, will also be shown how to use these weapons in real Chopsticks. You will see with my own eyes where aanak chopsticks stuck in the wooden beams that hard.

This is a rare dance, which can only be seen in Pampang, and every spectator watching this dance will always tense and excited. The situation will become Commander Chopsticks amazing own if doing the dance. if you are lucky you can take pictures with the Commander of the Chopsticks. (by frans aso)

Published in: on September 27, 2009 at 4:10 pm  Tinggalkan sebuah Komentar  
Tags: , ,

Tari LELENG, tarian kebersamaan dengan pengunjung

Tari Leleng

Tari Leleng

Minggu, 27 September 2009 jam 14.00 s/d 15.00 wita
Taman Wisata Budaya Pampang, Samarinda Kaltim
20 menit dari terminal Lempake

Pengunjung Pampang hari ini membludak, hampir semua tempat duduk terisi dan dipenuhi oleh pengunjung yang ingin menyaksikan tarian khas suku Dayak Kenyah . pada awalnya pengunjung yang datang hanya beberapa mobil saja, namun begitu memasuki jam 14.00 wita, secara bergelombang pengunjung berdatangan. Para pengunjung terdiri dari wisatawan Lokal dan wisatawan asing, ada beberapa diantaranya adalah mahasiswa dari Polandia dan Jepang.

Tidak sia-sia karena tarian yang ditampilkan hari ini cukup lengkap, sehingga pengunjung kelihatan amat puas, tepuk tangan terdengar bergemuruh setiap menyaksikan tarian-tarian yang ditampilkan.

Jika anda menyaksikan tarian diPampang, maka jangan buru buru pulang, karena di tarian terakhir akan ditampilkan tarian LELENG, yaitu tarian kenersamaan, yang ditarikan oleh para penari yang telah tampil. Dalam tarian ini pengunjung diajak turut serta untuk ikut menari, hal ini bisa menjadi petualangan dan kenangan tersendiri bagi anda. Pada hari minggu ini para pengunjung amat antusias ikut menari dalam tarian LELENG.

Setelah tarian LELENG, anda bisa minta foto bersama dengan para penarinya, dengan ibu telinga panjang, atau dengan tetua suku. Tidak perlu takut, anda cukup beli tiket untuk foto dan katakan minta mau foto dengan siapa, maka orang yang anda maksud akan dipangilkan. Kalo beruntung anda bisa berfoto dengan Panglima Sumpit, karena panglima Sumpit (penari sumpit) kadang tidak mau diajak berfoto. (oleh frans aso )

foto dengan Panglima Sumpit

foto dengan Panglima Sumpit

Sunday, September 27, 2009 at 14:00 s / d 15:00 wita
Cultural Park Pampang, Samarinda East Kalimantan
20 minutes from the terminal Lempake

—>Visitor booming Pampang today, almost all the seats filled and filled with visitors who want to see the typical dance of Dayak Kenyah tribe. visitors who initially came only a few cars only, but once entered wita 14:00 hours, guests arriving in waves. The visitors consisted of local tourists and foreign tourists, there are a few of them are students from Poland and Japan.

Not in vain because the dances are presented fairly complete today, so the visitors looked very satisfied, thunderous applause every witness dances are shown.

If you watch the dance diPampang, so do not hurry hurry home, because in the last dance will be displayed LELENG dance, which dance kenersamaan, which danced by the dancers who have appeared. In this dance of guests invited to take part to participate in dance, this can be an adventure and special memories for you. On the day of this week the visitors danced very enthusiastically participate in the dance LELENG.

After the dance LELENG, you can ask for photos together with the dancers, with long ears mother, or with tribal elders. No need to fear, you just buy tickets for the photos and asked to photograph say with whom, the person you are meant to dipangilkan. Kalo lucky you can take pictures with the Commander of Chopsticks, because the commander of Chopsticks (dancer chopsticks) sometimes not wanted to have their pictures taken. (By frans aso)

Published in: on September 27, 2009 at 3:34 pm  Comments (2)  
Tags: , , ,

Mau ketemu Aku ? Datang ke Pampang

Selamat Datang

Selamat datang di Pampang, Desa wisata Budaya bukan buatan, tapi real pemukiman Suku Dayak Kenyah. Mudah di jangkau, hanya 20 menit dari terminal Lempake Samarinda utara ke arah Bontang… Mau ketemu aku..? Kunjungi Pampang…siapa bilang lepok Dayak itu menakutkan…!!!

Info lengkap, silahkan kupas blog ini… (by frans aso)

Myth MANDAU FLY, an astonishing fact

Panglima Sumpit At the time of inter-ethnic riots Occurrence in Sambas and Sampit, many    developing story about the phenomenon Mandau Fly: (Mandau who could fly would auto target, can choose and decapitate the enemy). It is quite thrilling and make anyone shudder learn.

All returned to the hearing, believe it or not. However, many testimonies that confirmed the truth of these phenomena.

Whatever the story must be underlined that Mandau is a traditional weapon Dayak tribes. Mandau has become a symbol of strength, a symbol of justice, a symbol of unity and a symbol of the life of the Dayak tribe.

For the Dayak, bringing Mandau everywhere are common, no need to worry. To revoke Mandau should not be arbitrary, there are rules. Mandau not be used to threaten other people, either one could get the customary fine. New Mandau  from its sheath will be withdrawn only if the conditions very driven to defend themselves, and said to each Mandau  out of the holster must have victims.

Mandau  flying could allegedly committed by tribe elders who have a higher supernatural power, through a certain ritual eating Mandau  will be flying off to find the target, almost certainly Mandau  will not misplaced. Mandau flies and ritual will be performed only in emergency conditions for very  keep alive  life.

There was testimony that can not be accepted by common sense, the incident in Sampit few years ago where there is ethnic Chinese family, with an attendant from a particular ethnic. The house is in a closed condition, they are all in the house, but suddenly the maid’s neck was cut with blood. Because of the fear and trauma, so he thought long without one ethnic Chinese family that was also left home with only take items can be brought back to the makeshift city of Malang.

Yes Mandau Fly stories between myth and reality … .. (by frans aso)

Published in: on September 11, 2009 at 9:30 am  Tinggalkan sebuah Komentar  
Tags: , , ,

Tari Pampaga’ , tampilan terbaru gadis gadis Dayak Kenyah Pampang

Jika anda berkunjung ke Pampang pada hari minggu jam 14.00-15.00 wita.  maka jika lagi

anak gadis dayak

anak gadis dayak

beruntung  anda akan dapat menyaksikan tarian baru yang amat jarang ditarikan.  “Tari Pampaga’ ” di tarikan oleh gadis gadis suku Kenyah dengan penuh semangat dan keceriaan. menyaksikan tarian ini, Andrenalin anda akan segera terpompa, rasa lelah dan kantuk akan segera sirna.

Akan lebih beruntung lagi, jika anda dapat menyaksikan tarian Sumpit,  tarian ini tidak akan bisa anda temukan dimanapun, dan hanya ada di Pampang. Bagaimana senjata sumpit digunakan secara nyata dalam sebuah rangkaian tarian ???   ……. (by frans aso )

Published in: on September 8, 2009 at 12:50 pm  Tinggalkan sebuah Komentar  
Tags: , , ,

About East Borneo Indonesia, please inside this blok

Panglima muda Kenyah

Panglima muda Kenyah

Published in: on September 3, 2009 at 2:17 pm  Tinggalkan sebuah Komentar  
Tags: ,