Sumpit Comanders from Pampang

Salah satu seni tradisional yang bisa disaksikan langsung setiap hari minggu .

Goa Kelelawar dan Air Terjun

Belum banyak orang yang tahu, bahwa di Lokasi Perbukitan Desa Pampang terdapat Air Terjun dan Goa kelelawar.

Bagi yang menyukai petualangan boleh juga di coba, letaknya berada di perbukitan, bisa ditempuh dengan berjalan kali kurang lebih memakan waktu 1 jam.

Jika cuaca lagi bagus dan tanahnya karing, bisa juga di tempuh dengan mengendarai sepeda motor.

Tempatnya masih asli, jarang sekali dikunjungi orang.

Hanya  warga suku Dayak pampang saja yang kebetulan berladang di sekitar daerah tersebut.   ( oleh frans aso )

Sampek, alat musik tradisional , video exclusive


Musik sampek ini biasa digunakan untuk mengiringi Kanjet Lasan, Kanjet Sumpit dan Kanjet Punan Le’to…Untuk download Sampe’ ini, anda bisa juga klik : http://www.youtube.com/watch?v=gbf3Ab3vk1Y

Foto Kenangan dari uma’ dado’ SUNI ASO

Minggu,  25 Oktober 2009, Lamin Pampang di banjiri pengunjung. Para pengunjung sebagian dari kota Samarinda, Kota Balikpapan, Bontang,  Jakarta , Semarang dll. Diantara pengunjung terlihat puluhan turis asing.

Atraksi seni budaya yang ditampilkan cukup lengkap, sebagai puncaknya adalah Atraksi Kepiawaian MENYUMPIT.  Sekitar jam 15.00 wita acara atraksi seni budaya selesai, namun para pengunjung terkesan enggan meninggalkan tempat duduknya.

loeksSebagian pengunjung menyempatkan singgah di uma’ dado’ SUNI ASO,  dengan bersemangat mereka meminjam pakaian Adat dan berfoto-ria,  mereka terlihat tidak ingin melewatkan kunjungan ke PAMPANG , maklum saja karena kebetulan rombongan tersebut datang jauh jauh dari kota Semarang dan kota Malang.

Tarif sewa pakaian Adat di uma’ dado’ SUNI ASO tergolong murah. 1 DSC01252set pakaian adat lengkap hanya dibandrol 25 ribu, itupun penyewa diberikan kenangan gelang cantik khas Pampang, dan  boleh berfoto/berpose sepuasnya.

Jika sedang ke Pampang, boleh juga singgah di sini…..  ( oleh frans aso )

—-> Sunday, October 25, 2009, Lamin Pampang in flooded visitors. The visitors some of the city of Samarinda, Balikpapan, Bontang, Jakarta, Semarang, etc.. Among the guests seen dozens of foreign tourists.

Cultural art attractions shown quite complete, as the peak is MENYUMPIT Attractions Standards. Around 15:00 wita attractions arts and culture events completed, but the visitors seemed reluctant to leave his seat.

Some  visitors took shelter in the uma’ dado’ SUNI ASO , with their vibrant traditional dress and borrow picture into raptures, they appear not want to miss a visit to the obvious, you know just because the group happens to come far away from the city of Semarang and Malang.

Traditional clothing rental rates in the uma ‘dado’ Suni ASO quite cheap. 1 set comprehensive custom clothes price only 25 thousand, and even then the tenant is given special memories Pampang beautiful bracelet, and can take pictures / poses full.

If you’re into Pampang, may also stop here ….. (By frans aso)

Burung ENGGANG

ENGGANGEnggang adalah burung khas asli Kalimantan, burung ini hidup bebas di belantara hutan Kalimantan.  Burung Enggang memiliki kemampuan terbang amat tinggi dan amat jauh, sanggup terbang antar pulau. Biasanya beristirahat dan bersarang di puncak-puncak pohon yang tinggi. Keberadaan burung Enggang amat erat kaitannya dengan masyarakat suku Dayak.

Burung Enggang bisa dikatakan sebagai lambang kehidupan suku Dayak.  Perpindahan burung Enggang dari satu tempat ke tempat lainnya melambangkan perpindahan suku Dayak dari satu daerah ke daerah lainnya pada masa lampau.

Hampir seluruh bagian tubuh burung Enggang ( bulu, kepala, paruh dll ) menjadi lambang lambang dan simbol kebesaran suku Dayak.  Tak heran jika patung-patung burung Enggang menghiasi setiap tempat di Kalimantan Timur.  ( oleh frans aso )

Sampek—-> Enggang  are distinctive native birds of Borneo, these birds live freely in the jungles of Borneo jungle. Enggang  has the ability to fly very high and very far away, capable of flying between islands. Usually rest and nest in the tops of tall trees. Enggang  bird very existence is closely related to the Dayak tribe.

Enggang can be regarded as a symbol of the life of the Dayak tribe. Enggang bird migration from one place to another symbolizes the transfer of Dayak tribes from one region to another in the past.

Almost all parts of the body Enggang bird (feathers, head, beak, etc.) became the symbol of the emblem and symbol of the greatness of the Dayak tribe. No wonder the bird statues adorned Enggang every place in East Kalimantan. (By frans aso)

Enseval PT, perusahaan Farmasi Pertama

panglima Enggang

panglima Enggang

Dibawah komando Panglima ENGGANG (banch manager), PT Enseval Putera Megatrading, Tbk mengadakan acara sekaligus wisata ke Pampang. tak tanggung tanggung sekitar 250 karyawan beserta keluarga memenuhi balai lamin.

“Dalam kesempatan yang baik ini, kami sengaja membawa karyawan & keluarga ke Pampang, agar karyawan lebih mengenal dan mencintai budaya khas Kaltim ini juga untuk mendukung program CSR yang sedang didengungkan oleh Perusahaan..” demikian dikatakan oleh Panglima ENGGANG ( branc manager PT Enseval Samarinda)

Selain PT. Enseval, PT Kalbe Farma Samarinda dibawah komando Bpk. Nyarmin, juga mulai bersedia memberikan support dari sisi promosi wisata Pampang dengan membuat spanduk-spanduk yang terpasang dibeberapa sudut kota beberapa waktu yang lalu.  ( oleh frans aso )

—>Under the command of Commander ENGGANG (banch manager), PT Enseval Putera Megatrading, Tbk held at the same time to Pampang tour. not bear responsibility approximately 250 employees and their families meet Lamin hall.

“In this excellent opportunity, we are deliberately bringing employees & families to Pampang, so that employees get to know and love the unique culture of East Kalimantan also to support the CSR program being buzzed by the company ..” it was said by the Commander of the ENGGANG (branc manager of PT Enseval Samarinda)

In addition to PT. Enseval, PT Kalbe Farma Samarinda under the command of Mr. Nyarmin, also began willing to provide support in terms of tourism promotion Pampang by making banners that were installed in some corner of the city some time ago. (By frans aso)

Telinga Panjang

frsTelinga Panjang menjadi ciri khas orang Dayak, pada jaman dahulu hampir semua orang Dayak baik laki laki maupun perenpuan bertelinga panjang.  Menurut Amai Pebulung ( seorang tetua suku Dayak Pampang ), Orang dayak  dahulu banyak hidup di hutan, ingin membedakan antara manusia dengan monyet, “Jika telinganya pendek berarti dia itu monyet…..” demikian dikatakan oleh amai Pebulung sambil tertawa terkekeh kekeh…

Untuk kaum wanita jika telinganya semakin panjang dan bandul telinganya semakin banyak maka dia semakin cantik. Untuk kaum lelakinya biasanya bandul telinganya dibuat ukir-ukiran.

Di desa Pampang masih ada beberapa ibu-ibu yang bertelinga panjang, dan juga beberapa tetua adat yang masih bertelinga panjang. Sementara itu untuk generasi mudanya sudah tidak lagi membuat teliga panjang  ( oleh frans aso )

—-> Ear length is characteristic of the Dayaks, in the past almost everyone either male Dayak and long-eared women. According Amai Pebulung (A Pampang Dayak tribal elders), The first dayak many live in the forest, to distinguish between humans and monkeys, “If the short ears mean he’s a monkey …..” Thus Pebulung Amai said with a laugh  …

For women if the ears get longer and more ear pendant she was more beautiful then. For the boys usually pendant ears made carvings.

In the village Pampang there are still some mothers who are ear length, and also some traditional elders who are long-eared. Meanwhile, for the younger generation no longer make long ears (by frans aso)

Video Seni Tradisional suku Dayak Pampang

Atraksi kesenian suku dayak Kenyah ini bisa disaksikan secara rutin setiap hari minggu antara jam 14.00 s/d 15.00 WITA bertempat di Balai Lamin Adat Pampang Samarinda Kalimantan Timur.

Jaraknya cukup dekat dari pusat kota Samarinda, dari Terminal Lempake hanya 20 menit perjalanan dengan kendaraan bermotor. Komitment para tetua adat dan masyarakat Pampang atraksi ini akan terus dilestarikan walaupun perhatian dari pemerintah amat memprihatinkan.

“Kami menari bukan semata-mata karena uang, tetapi kami ingin melestarikan Budaya warisan para leluhur” demikian kata seorang tetua adat. Semoga saja terjadi suatu keajaiban, sehingga Pemda Kaltim yang kaya raya ini dapat memberikan perhatian serius terhadap sektor Budaya, para pengusaha yang peduli terhadap citra budaya Kaltim, sudah saatnya kita memulai sekecil apapun berani memulai itu lebih baik…. ( oleh frans aso )

Potong rambut—-> Attractions Dayak Kenyah art can be seen on a regular basis every day of the week between the hours of 14:00 s / d located at Central 15:00 Lamin Indigenous Pampang Samarinda in East Kalimantan.

The distance is close enough from the center of Samarinda, the Terminal Lempake only 20 minutes journey by motor vehicle. Commitment of indigenous elders and community Pampang this attraction will continue to be preserved even if the attention of the government is very concerned.

“We dance not solely because of money, but we want to preserve the culture heritage of the ancestors” said an indigenous elder. Let’s hope a miracle occurs, so that local government of a wealthy East Kalimantan can give serious attention to the culture sector, the businessmen who care about the image Kaltim culture, it’s time we start the slightest courage to start it better …. (By frans aso)

Artis dan Presenter Yoanita berwisata ke Pampang

Minggu, 11 Oktober 2009.  Jam 14.00 s/d 15.00 wita , Pampang lokasi yang terletak di samarinda utara, jalan samarinda -Bontang, dan hanya 20 menit dari terminal Lempake Samarinda.

Joanita PampangSetiap hari minggu  desa Pampang semakin ramai dikunjungi wisatawan. Puluhan Turis asing yang datang kelihatan amat antusias dan kagum dengan seni Budaya Dayak, yang sudah langka ini. Pada minggu ini Balai Lamin Adat Pampang dipenuhi oleh sekitar 400 pengunjung, tempat duduk yang tersedia sudah tidak mencukupi lagi sehingga sebagian dari pengunjung rela berdiri.

Tak kalah menarik perhatian adalah dengan hadirnya Artis dan presenter kondang Yoanita bersama kru. Tak pelak lagi para pengunjung yang datang berebut untuk minta foto bersama Yoanita. Dan dengan senyum dan ramah Artis Yoanita mau meladeni permintaan para pengunjung tersebut.

Memang Pampang adalah Lokasi Etnik yang memiliki magnet kuat bagi para petualang dan wisatawan, mengundang beribu tanya dan rasa penasaran. Pengunjung biasanya ingin secara langsung melihat Lamin (rumah panjang suku dayak) yang biasanya hanya dijumpai di pedalaman hutan Kalimantan.  mereka juga ingin melihat secara langsung kehidupan & adat Istiadat Suku Dayak.  Sehingga tempat yang paling tepat dan paling dekat dikunjungi adalah desa Pampang.

Selain  Artis, Turis Asing, Peneliti dan  Pekerja Seni , pihak yang sering menyaksikan secara khusus atraksi seni di Pampang adalah Instansi dari kesatuan TNI, Kejaksaan, Bank Mandiri. Ironisnya justru instansi yang terkait dengan pariwisata seperti Dinas Pariwisata maupun penda masih terkesan malu malu mengembangkan daerah ini secara profesional.

frans asOBagi para pengusaha di Kaltim,  di Jakarta atau siapa saja yang tertarik mengembangkan Pampang menjadi tempat wisata budaya yang spektakuler seperti halnya di Bali atau Thailand, bilamana dibutuhkan penulis dengan senang hati bersedia membantu untuk memediasi dengan masyarakat Adat.  

“Lebih baik memulai walaupun hal yang kecil, daripada tidak berbuat sama sekali”. (oleh frans aso )

—> Every day of the week Pampang increasingly crowded villages visited by tourists. Dozens of foreign tourists who came seemed very enthusiastic and impressed with the art of Dayak culture, which is rare. In this week Balai Adat Pampang Lamin met by about 400 guests, seats are available are not sufficient anymore, so some of the visitors are willing to stand.

No less interesting is the presence of famous artist and presenter with a crew Yoanita. No doubt the visitors who came to scramble to get photos with Yoanita. And with a smile and friendly Artists will serve Yoanita the visitors request.

It is the location Pampang Cloudy with a powerful magnet for travelers and tourists, inviting thousands of questions and curiosity. Visitors usually want to live to see Lamin (Dayak long house) is usually only found in Borneo forest interior. they also want to see directly the life & indigenous Dayak tribes Istiadat. So that the most appropriate place and the closest village to visit is Pampang.

Apart Artist, Foreign Tourism, Research and Art Workers, who often witnessed the special attraction is the art of Pampang Institution of military unit, Attorney General, Bank Mandiri. Ironically it related agencies such as the Office of Tourism tourism and income still impressed shame shame this area to develop professionally.

Anyone entrepreneurs in East Kalimantan, in Jakarta or anyone interested in developing Pampang become a place of spectacular cultural tourism as well as in Bali or Thailand, if needed writers would gladly help to mediate with Indigenous communities.

“It’s better to start small though, than not doing at all”. (by frans aso)

Published in: on Oktober 15, 2009 at 3:05 am  Tinggalkan sebuah Komentar  
Tags: , , , , , , , ,

Ritual Pemakaman Kepala Adat

PAMPANG, 20 menit dari terminal Lempake Samarinda Utara, Kalimantan Timur.

Kepala Adat / Kepala Suku, dalam tradisi kehidupan masyarakat Dayak menjadi sosok yang lebih dihormati daripada tokoh pemerintahan seperti RT atau Lurah.  Kepala Adat menjadi tokoh sentral dalam kehidupan masyarakat adat.

Segala permasalahan yang timbul ditengah masyarakat, akan terselesaikan apabila kepala adat turun tangan. Biasanya Kepala Adat akan dipilih dari orang yang memiliki keturunan bangsawan.

Penghormatan terhadap kepala Adat akan dilakukan oleh warga bahkan sampai dengan saat kepala Adat tersebut meningal dunia. Upacara dan ritual adat akan dilakukan secara besar besaran melibatkan seluruh warga.  Hal tersebut masih terjadi di desa budaya Pampang.

Pada saat kepala Adat meninggal dunia,  akan disemanyamkan di Balai Lamin Adat, jenasah akan disemayamkan selama beberapa hari dengan tujuan menunggu kedatangan sanak keluarga dari berbagai daerah di pedalaman Kaltim. Selama berhari-hari masyarakat secara bergotong royong bahu membahu mempersiapkan tempat pemakaman, upacara pemakaman dan peti jenasah.  Peti jenasah dibuat dari gelondongan kayu ulin besar yang di beri lubang ditengahnya dan bagian luarnya akan diukir.  Sementara di lokasi pemakaman disiapkan rumah  dari kayu ulin beratap sirap untuk melindungi lubang kubur, juga disiapkan nisan terbuat dari gelondongan kayu ulin yang diukir.

Pada waktu yang telah dijadwalkan , jenasah/peti jenasah  akan diletakkan diatas rangkaian puluhan batang bambu dan diangkat oleh ratusan warga. Ritual acara pemakaman akan dipimpin oleh orang khusus dan beberapa pendeta. Selama arak-arakan akan diiringi oleh warga dan pasukan perang dengan pakaian adat lengkap.  (oleh frans aso )

Makam—-> Pampang, 20 minutes from the terminal Lempake North Samarinda, East Kalimantan.

Head Ceremony Chieftains, in the tradition of the Dayak community life figure who is more respected than the government figures such as RT or Lurah. Traditional head into the central figure in the lives of indigenous peoples.

Any problems that arise in the middle of society, will be resolved if the chiefs to intervene. Traditional Head will usually be chosen from those who have royal blood.

Respect for customary chief would be carried out by people even up to the head of the Indigenous meningal world. Customary rites and rituals will be performed on a large scale involving all citizens. This is still happening in villages Pampang culture.

At the time of death Indigenous head, will in the Central disemanyamkan Indigenous Lamin, the body would rest for a few days with the goal waiting for the relatives of the various regions in the interior of East Kalimantan. For days the community work together hand in hand to prepare the cemetery, funeral and casket body. Casket body is made from ironwood logs large hole in the berries and inner be carved on the outside. While the location of the funeral home prepared ironwood shingle roofs to protect the grave, also prepared headstone made of logs carved ironwood.

At the scheduled time, the body / casket will be placed above the body of a series of dozens of bamboo stems and appointed by the hundreds of citizens. Funeral ritual will be led by a special person and a priest. During the procession will be accompanied by the citizens and the army with full traditional costume. (by frans aso)

Published in: on Oktober 1, 2009 at 1:15 pm  Tinggalkan sebuah Komentar  
Tags: , , ,