Suku Kenyah art of Dayak

Apo kayan, dari udara daerah ini tampak seperti lanskap yang mencolok diantara kerimbunan belantara. Diantara perbukitan, hutan lebat, atap rumah pemduduk tampak memencar. Inilah daerah di ujung utara Kalimantan Timur yang berbatasan langsung dengan Serawak, Malaysia. Terletak di dataran tinggi seluas sekitar 60 km2., Apokayan seperti menutup diri dengan dunia luar. Selain jaraknya amat jauh dengan kota lain, alat transportasi ke Apo Kayan juga tak gampang.

Apo kayan hanya bisa dicapai dari tiga kota : Samarinda, Tarakan dan Tanjung Selor. Dari ketiga tempat ini perjalanan bias dilakukan lewat udara menggunakan peswat berbadan kecil seperti merpati dan cesna milik misionaris. Selain itu transportasi juga bisal dilakukan melalui sungai. Biasanya penduduk melewati sungai Kayan, Namun seringkali mengalami kesulitan, karena dihadang olehRiam Afun – Niagara kecil sepanjang 35 km. Penduduk biasanya lebih memilih jalan melingkar menghindari riam Afun, dengan waktu tempuh lebih lama.

Kehidupan di Apo Kayan sesungguhnya, dapat ditelusuri sepanjang sungai Kayan. Penduduk daerah ini berjumlah sekitar 4700 jiwa, sebagian besar membuat rumah sepanjang tepian sungai.  Isini terdapat dua kecamatan yaitu Kecamatan Kayan Hulu dan Kayan Hilir. Di Kayan Hulu tredapat lima desa yakni Long Ampung, Long Nawang, Long Nawang Baru, Long Temuyat, dan Long Payau. Sedangkan di Kayan Hilir ada tiga desa yakni sei Anai,  Metun I, dan Data Dian.

Rumah rumah tinggal mereka masih khas. Uma Da’du atau Lamin adalah rumah asli peninggalan Dayak Kenyah yang masih utuh. Rumah adat ini dibuat dari kayu ulin, beratap sirap. Lamin di hiasi lukisan daun paku simetris dengan aneka warna. Bentuknya sebagian menyerupai tattoo di tangan kaum wanitanya . Mereka juga dikenal mahir membuat manik-manik dan pemahat handal patung Totem.

Kaum wanitanya cantik-cantik, berkulit putih. Keciali bertatto, mereka juga dapat dikenali dengan saratnya anting gelang ditelinganya. Dalam acara-acara tertentu misalnya pesta perkawinan, mereka kerap nenarikan Burung Enggang dan Tarian Gong. Belakangan tarian ini menjadi komuditas bagi para Turis yang datang ke daerah itu. Pemandangan ini dapat dilihat di desa Long bagun dan Long Iram.

Hubungan kekerabatan mereka mengikuti garis keturunan patrilinial. Dalam satu lamin dapat dijumpai hidup beberapa keluarga, mulai dari orang tua, anak, cucu, sepupu hingga keponakan. Dahulu kala sebuah lamin malah dapat menampung lebih dari 100 KK, sehingga tidak ada bentuk keluarga batih mutlak. Batih baru ada kalau sekiranya pasangan suami istri mau memisahkan diri dari lamin. Namun hal ini jarang dilakukan, karena pertimbangan ekonomi. Sebab, dengan memilih tinggal didalam lamin, segala persoalan dan kebutuhan sehari-hari menjadi tanggung jawab bersama.  Hidup komunal demikian, tentu ada resikonya. Kerahasiaan menjadi kosakata yang nyaris tak mereka kenal. Kerahasiaan personal menjadi demikian tipis, agaknya hanyalah setebal kelambu.

Namun demikian mereka tetap taat pada adat lamin yang sehari-hari dikendalikan oleh kepala adat. Di dalam lami, kepala adapt menempati kamar bagian tengah.  Bagi mereka, kepala adat adalah orang yang dipilih menurut garis keturunan bangsawan, yang dapat melindungi dan berwawasan luas tentang adat setempat. Dalam struktur masyarakat, posisi kepala adat berada dibawah kepala desa. Namun, dalam keseharian, kepala adat tampak lebih dihormati ketimbang kepala desa.

Transportasi darat di daerah ini belum berkembang baik. Mereka lebih menggunakan jalan  setapak sebagai sarana komunikasi darat antara satu rumah atau satu tempat. Alat transportasi populer yang cukup membantu adalah lewat sungai. Mereka menggunakan ketinting (perahu motor) sebagai alat angkut, baik untuk manusia maupun hasil pertanian.

Mata pencaharian mereka memang bertani. Umumnya, sebagai peramu hasil hutan dan peladang berpindah. Perladangan dilakukan dengan sistem rotasi alam selama 4-7 tahun. Di desa Long Payao, Sei Anai, dan Metun I, sistem rotasinya sampai 10 tahun. Inilah, agaknya, mengapa suku Dayak kerap dituding sebagai perusak lingkungan hutan.

Suku dayak Kenyah, yang menjadi penduduk asli Apo Kayan, sebagian besar beragama Kristen dan Katolik. Sebagian kecil, terutama orang tua, masih ada yang animisme. Belakangan, seiring dengan masuknya para pendatang ke daerah ini, pemeluk islam sudah mulai bermunculan. Suku Kenyah  adalah klan besar suku dayak- diantara klan Dayak di Kalimantan, Serawak, dan Sabah di Malaysia. Sebagai pengantar sehari-hari, mereka menggunakan bahasa Kenyah, yang mengenal 14 dialek. Belakangan, munculnya generasi muda suku Kenyah yang mendiami Apo Kayan, bahasa indonesia mulai dikenal.

Klan besar Dayak Kenyah, konon, berasal dari keturunan para pedagang Cina dan suku Barunai (Brunai Darussalam). “Kami berasal dari Sungai Baram, wilayah suku Barunai,” ujar Labu Usad, kepala desa Nawang Baru. Karena sering berperang dengan suku Barunai lainnya, akhirnya berpencar menjadi empat wilayah. Satu diantaranya mendiami Dataran Apo Kayan.

Dalam perkembangannya, Klan ini terbagi menjadi 30 subsuku, yang memiliki nama tersendiri dan masing-masing memiliki kepala adat. Tak jelas, sejak kapan terjadi perpecahan dalam Klan besar ini. Namun, mengapa sampai terjadi perpecahan, itu hanya dapat diterangkan dengan “kata Sahibul Hikayat”.

Alkisah, Batang Laing-salah seorang kepala suku – menugaskan delapan warganya, empat lelaki dan empat wanita, untuk membuat Yunan (alat peras tebu). Yunan adalah syarat meminta restu kepada Dewa Peselong Loan. “Tum ta mita tan ya leka –  Tolonglah kami mencari tanah subur.” Seorang dukun yang memimpin upacara kesurupan, sembari berkata, “A Untana ya suk tana Lurah Tana ya leka ya bileng – Ada tanah yang subur dan luas di lembah lurah yang jauh.”

Nah, petunjuk untuk menemukan “tanah perjanjian” itulah yang memunculkan perbedaan pendapa. Klan besar Kayak Kenyah mengalami pemencaran, sesuai dengan penafsiran masing-masing tentang letak tanah dimaksud, sampai kemudian membentuk kelompok menjadi 30 subsuku. Meski tempat tinggal antar – subsuku ini berpisah, tetap berada dilembah yang sama. Yaitu, membujur sepanjang Apo Kayan – Dataran Tinggi Kayan.

Masing-masing subsuku mempunyai “swing-awing” (keputusan adat tersendiri). Kecuali itu, setiap subsuku memiliki otonomi atas wilayah kerja tersendiri – misalnya atas daerah perburuan, ladang, sebagai hak ulayat masing-masing. Sebelum dataran Apo Kayan dimasuki misionaris, perbedaan antar-subsuku justru memunculkan pertentangan tajam yang berakibat buruk. Misalnya, hanya untuk mempertahankan ego subsuku, mereka tak segan-segan untuk mengayau (memenggal kepala) warga subsuku lain.

Seiring dengan masuknya misionaris, adapt jelek itu mulai hilang. Selain itu, juga karena kejenuhan mereka sendiri atas tingkah laku peperangan yang sadis dan melelahkan. Adalah peserang, kepala subsuku Umaq Tau, yang memprakarsai  pertemuan antar subsuku. Ketika itu, diharuskan mengangkat sumpah bersama,  yaitu sumpah Petutung yang dipimpin  langsung oleh Peserang. Upacara dilangsungkan pagi hari, sembari minum air taring harimau dan babi, semua kepala suku menyatakan tobat. Maksudnya, “Kalau ada yang melanggar, hati, mata dan isi perutnya, akan dimakan harimau dan babi, “ujar Pue Pare, kepala adapt Long Temuyat.

Sejak itulah, warna kehidupan di Apo Kayan mulai bergeser. Peradaban mereka mulai jinak, dan mau diatur. Mereka mulai diliputi impian-impian akan perubahan gaya hidup. Tahun 1960-an, gelombang besar itu benar-benar terjadi. Sebagian penduduk keluar dari Dataran Apo kayan, menuju daerah baru yang relative dekat dan mudah dijangkau dari kota. “saya putuskan berpisah. Kita harus mencari kehidupan baru, “ujar Pelibut, kepala adat Kayak Kenyah Umaq, di Muara Wahau. Sepanjang sejarah eksodus suku Dayak Kenyah, adalah Pelibut yang banyak diikuti pengikut.

Upaya Pelibut dan teman-teman, sebenarnya, ditentang oleh kepala suku lain. Harapan mereka, Apo Kayan tak perlu ditinggalkan. Tetapi apa yang mesti dipertahankan?” Kehidupan sehari-hari di Apo Kayan  susah.Garam saja sulit didapt.”kata Pelibut. Maka, ketika hari belum terang, rombongan Pelibut-yang meliputi anak dan istri serta harta benda – hijrah diam-diam, keluar dari Apo Kayan. Mereka menyusuri Sungai Boh, sambil bercocok tanam. Tak kurang dari setahun perjalanan menempuh hutan, sampai tiba di tempat tinggal sekarang Muara Wahau.

Agaknya, gelombang eksodus ini juga diikuti oleh sejumlah kelompok lain. Ada yang hijrah  menyusuri Sungai Kayan sampai Sungai Oga Long Danum – kini Desa Metulang. Sampai disini, kelompok eksodus ini mengalami perpecahan lagi. Sebagian menuju Lalot Pubong (lumbung di tepi Sungai Nawang) sampai berakhir di Long Nawang.

Konsekuensi pergeseran gaya hidup ini adalah penerimaan berbagai bentuk perubahan dari budaya luar. Berbagai peralatan rumah tangga dan pertanian dari luar mulai dikenal, seiring dengan tersisihnya perlatan tradisional yang sebelumnya mereka miliki. Beberapa penduduk Apo Kayan mulai menantang kehidupan kota. Bahkan, tak sedikit kalangan generasi mudanya yang hijrah ke Samarinda, Tenggarong, Tanjung Selor. Malah, sudah ada yang mengadu nasib ke negeri jiran, sebagai buruh harian. “ Tiga bulan bekerja, saya bisa mengantongi uang sampai 1.000 ringgit”, ujar Amai Juk, yang bekerja di kebun cokelat, Serawak, Malaysia. Akibat banyaknya warga yang mengadu nasib keluar sejak tahun 1988, beberapa kampung kelihatan kosong. Sebut saja Desa Long Ikeng, Long Kelawit, Long Lemiliu, Long Sungan, dan Desa Marung.

Hal ini bisa terjadi karena Apo Kayan adalah gerbang perbatasan antara Indonesia-dan Malaysia. Kalau mau ke negeri sebelah, dapat ditempuh lewat dua jalur. Lewat Sungai Marung di Kecamatan Kayan Hilir, dan melalui hulu sungai Pengian di Kecamatan Kayan Hulu. Jalur Sungai Pengian adalah rute terpendek yang bisa dilewati. Dalam waktu sekitar tiga jam perjalanan dengan perahu dari Long Nawang, kita sudah bisa sampai perbatasan.

Dari Kubu Long Kenyah, jalan kaki selama tiga jam menembus hutan sampailah di Kubu Long  Bulan dan Long Jawi di Serawak. Disini, sudah menunggu kendaraan taksi air milik Ma Laho- pedagang Cina asal Marudi. Kedua jalur ini dapat dilalui hilir-mudik oleh penduduk suku Dayak Kenyah, dan pelintas batas tradisional, tanpa dikenakan ketentuan imigrasi. Hanya dengan mengurus border pass di kecamatan seharga Rp. 500, mereka sudah bisa leluasa bolak-balik pergi dari Serawak ke Apo Kayan.

Apo Kayan, seperti halnya daerah lain di dataran bumi ini, memang tak bisa menghindar dari perubahan. Berbagai bentuk kegiatan penyembahan, misalnya kepada patung, mulai terkikis-menyusul  masuknya misionaris ke daerah itu. Sekolah-sekolah dibangun, kegiatan sosial pun muncul. Tak sedikit generasi baru Apo Kayan yang meneruskan sekolah di jenjang perguruan tinggi di Samarinda. Di antara yang sukses, malah sudah ada yang bekerja di Pemda Kalimantan Timur.

Tinggal kaum tua dan sebagian warga yang mencoba tetap bertahan di Apo Kayan, dengan segala atribut : adat, tradisi, dan agama. Mereka memilih setia pada Apo Kayan, meski bahan pokok sehari-hari relatif mahal ketimbang kota. Toh, akibat pengaruh kaum pendatang, mereka juga mulai mengenal budidaya tanaman keras seperti lada, vanili, kopi- sebagai usaha sampingan. “ Kesulitan kami adalah transportasi, sehingga bahan pokok mahal, “ujar Marcus, pemilik sebuah toko di Long Nawang.

Kecuali itu, pada merekalah, masih dapat dilihat tatto, anting-anting, kerajinan mandau, manik-manik, tarian burung Enggang, dan tarian Gong. Agaknya, memang, tak semuanya mesti berubah.  (oleh frans aso,  foto by hari widjayanti, bram T &frans aso )

Iklan

Kampung EHENG, Kutai Barat…catatan perjalanan

Rabu, 03 Februari 2010  saya bersama 2 orang teman melakukan perjalanan ke Kutai Barat, tujuan utama sih urusan dinas. Namun karena beberapa minggu sebelumnya saya melihat postcard bergambar LAMIN EHENG yang berada di Kutai Barat, maka kesempatan ini tak baik jika disia-siakan, pepatah mengatakan sambil menyelam minum air atau sekali merengkuh dayung 3 pulau terlampaui.

Pertama kami malakukan perjalanan ke Melak, perjalanan darat ke Melak ditempuh dalam waktu 7 jam.

TERING …

Kamis, 04 Februari 2010 kami bergegas untuk urusan kerja menyisir dari Barong Tongkok sampai dengan Tering.  Rupanya di Tering sedang terjadi banjir air pasang Sungai Mahakam, sehingga kami memutuskan untuk tidak meneruskan perjalanan ke Tering sebrang.

Dari Tering kami memutuskan kembali ke Barong Tongkok untuk menyelesaikan urusan pekerjaan.  Setelah urusan pekerjaan selesai, kamipun berputar putar di Barong Tongkok.

LINGGANG MELAPEH …

Dalam perjalanan tersebut secara tidak sengaja kami menemukan sebuah kampung Adat yang didiami warga suku Dayak, setelah bertanya ke beberapa orang kami mendapat informasi bahwa dikampung tersebut terdapat LAMIN Adat yang cukup besar.  Wah, seperti mendapat energi baru, kamipun segera tancap gas meluncur ke kampung tersebut.

Rasa letih dan lelah benar benar sirna saat kami  tiba di kampung yang didalamnya berdiri dengan megah sebuah LAMIN dengan tiang tiang penyangga terbuat dari gelondongan kayu ulin berukir.

Inilah Kampung LINGGANG MELAPEH yang  dihuni oleh warga Dayak dari bermacam macam sub suku.  Tidak mau menyia-nyiakan kesempatan, kami segera berpose untuk berfoto-foto. Disaat kami sedang berfoto-foto , beberapa Amai (Bapak) mendekati kami dan menyapa dengan ramah. Bahkan dengan senang hati menjelaskan keberadaan LAMIN tersebut. Kami mengatakan kepada Amai tersebut bahwa kami berasal dari desa PAMPANG Samarinda, diluar dugaan  ternyata Amai tersebut sudah tahu tentang desa Pampang bahkan beberapa kali pernah datang untuk keperluan adat.

DANAU ACCO …

Setelah beberapa saat kami singgah di Lamin MELAPEH, maka kami minta pamit  untuk melanjutkan perjalanan, namun seorang Amai memberi tahukan kepada kami  adanya sebuah danau yang bagus yang terletak di pinggir kampung Linggang Melapeh. Tanpa pikir panjang, kami segera meluncur ke arah yang ditunjuk Amai tersebut.   Oh.. ternyata masuk hutan, dengan jalan yang extrim ( kata teman saya…), jantung kami mulai berdebar karena rasanya jauh benar kami sudah masuk ke hutan.  Namun tekad kami bulat harus sampai ke danau tersebut, walau masuk hutan kami merasa tenang karena daerah tersebut di diami oleh warga dayak yang dikenal baik.

Kenekatan kami tidak sia-sia, ketika di depan kami terpampang papan nama  berbunyi ” DANAU ACCO”.  Kami segera turun dari mobil dan berhambur ingin melihat di bawah sana…. . Ternyata Luar Biasa ..sebuah Danau Mungil yang menyejukkan hati… silahkan lihat di foto.. Sayang sekali danau sabagus ini belum dipromosikan sebagai daerah tujuan wisata .

EHENG…

Beberapa saat kami bersantai di pinggir danau , tiba tiba gerimis mengundang. akhirnya kami memutuskan meninggalkan danau, maklum disana hanya ada kami bertiga.

Kami melanjutkan perjalanan ke Sendawar untuk mencari kampung EHENG, rupanya cukup mudah mencari kampung EHENG hampir setiap orang di Sendawar mengetahui kampung ini.  Konon di kampung EHENG ini  ada sebuah LAMIN panjang yang masih ditempati oleh warga sub suku Dayak Benuaq. Setelah 20 menit perjalanan, akhirnya sampailah kami didepan LAMIN EHENG. Lega rasanya, rasa penasaran yang lama terpendam, akhirnya terobati.

Kami sempat bertamu dan masuk ke dalam lamin,  diterima dan berbicara lama dengan keluarga yang katanya adalah wakil kepala adat. Sebentar kemudian beberapa penghuni LAMIN lainnya berkerumun menghampiri kami .

Para penghuni lamin disini ramah-ramah dan baik menerima kami, mereka juga bisa berbahasa indonesia walaupun terkadang kami harus mengulang kata demi kata dengan jelas. Menurut wakil kepala adat, LAMIN EHENG di huni oleh sekitar 32 kepala keluarga, dan sudah berdiri sejak tahun 1962. Mata pencaharian kebanyakan dari berladang dan membuat kerajinan.  Kepala adat tidak tinggal di LAMIN namun memiliki rumah tersendiri.

Disela obrolan kami, mereka bertanya asal kami… kami mengatakan bahwa kami datang dari Pampang Samarinda. Mereka mengatakan  tahu juga tentang Pampang, bahkan beberapa orang pernah datang ke Pampang untuk keperluan adat.

Sekian lama kami ngobrol, mata kami mulai melirik ke tumpukan kerajinan tas rotan yang baru saja dikeluarkan dari dalam kamar oleh istri wakil kepala adat tersebut. Tas tersebut unik dan khas, tak ingin menyesal maka kami membeli 4 buah tas sebagai kenangan…

Sayangnya LAMIN EHENG ini tidak dikembangkan sebagai daerah wisata Budaya. Melihat keaslian dan letaknya yang mudah dijangkau,  Lamin Eheng mestinya dapat dikembangkan menjadi Lokasi Wisata Budaya yang menarik.

TAMAN ADAT ….

Kami juga amat kagum dan memberikan acungan dua jempol kepada pemda Kutai Barat , kami melihat sedang dibangun Taman Adat yang amat luas dan megah.  Mestinya pemikiran ini bisa di tiru oleh Pemkot Samarinda…..

Jadi tidak salah jika kami ikut mengatakan untuk KUTAI BARAT ,  Teruskan..!!! “


Panglima Sumpit ada di Bali ? siapa sangka..?

GWK Bali, 12 Januari 2010

Waktu menunjukkan pukul 20.30 wita. Di tengah acara makan malam sebuah perusahaan swasta nasional yang terkemuka, disamping kolam sekelompok pemusik  mulai memainkan musik gamelan khas Bali dengan apik , sambil makan para pengunjung terlihat asyik menikmati alunan musik tersebut.

Sebentar kemudian seorang gadis bali dengan pakaian khas daerah mulai melenggak lenggok dengan gemulai nenarikan tarian khas Bali.  Para pengunjung semakin terpukau dan hanyut dalam alunan musik dan tari, sejurus kemudian mulai terlihat beberapa pengunjung memasuki panggung arena menari, mereka asyik ikut menari bersama gadis penari bali tersebut.

Setelah beberapa lelaki tersebut turun dari panggung, dilanjutkan oleh tampilnya seorang lelaki berbaju batik ke atas panggung, Lelaki tersebut mulai menari dengan gerakan-gerakan khas yang tidak lazim ada di bali, beberapa pengunjung mulai berteriak ..itu tari Dayak.. itu tari Dayak…, laki laki itupun asyik menari dengan iringan musik Bali….

Banyak pengunjung yang kagum dan terheran-heran dengan tarian lelaki tersebut, namun mungkin tak ada satupun yang menyangka Panglima Sumpit bersama mereka.   by. frans aso

Sumpit beracun

Tarian ini belum banyak di ekspos, belum banyak di ketahui bahkan belum menjadi sajian utama dalam atraksi seni budaya Dayak di desa Pampang.  Ibarat menu masakan tari menyumpit/tari berburu ini adalah menu khusus atau menu bonus.  Penyebabnya adalah sebagian besar warga enggan untuk menanpilkan kemahiran menyumpit tersebut dalam sebuah tarian, karena sumpit dianggap sebagai senjata rahasia.

Namun demikian dalam setiap penampilannya, Tari sumpit menjadi tarian yang paling menarik dan membuat detak jantung para pengunjung berdegub kencang.  Kenapa demikian ??? ada baiknya saksikan sindiri, karena tarian ini hanya ada di Desa Pampang.

Tari menyumpit/Tari berburu menceritakan pamuda dayak  dalam membela diri dengan senjata khas yaitu MANDAU,  dilanjutkan dengan kepiawaian berburu di hutan dengan senjata sumpit ( tombak panjang, berlubang didalamnya ).

Pengunjung akan melihat secara langsung bagaimana senjata sumpit di gunakan, bagaimana anak-anak sumpit tersebut bisa menancap pada batang-batang kayu ulin. Kalo lagi beruntung pengunjung akan diminta untuk mencoba meniup sumpit tersebut ke sasaran yang telah disiapkan.

Saksikan petualangan menarik ini hanya di Desa Pampang, Samarinda.  by frans aso

Sampek, alat musik tradisional , video exclusive


Musik sampek ini biasa digunakan untuk mengiringi Kanjet Lasan, Kanjet Sumpit dan Kanjet Punan Le’to…Untuk download Sampe’ ini, anda bisa juga klik : http://www.youtube.com/watch?v=gbf3Ab3vk1Y

gigi Hitam

Dayak teethWarga Dayak beranggapan bahwa  gigi hitam adalah cantik. Semakin hitam  gigi, semakin baik. Alasannya  untuk ini adalah bahwa dengan  gigi hitam tidak terlihat kepada roh-roh, sehingga  dengan demikian dipimpin untuk mempercayai  bahwa mereka telah terhindar sebagai bahaya dan dapat menjaga diri mereka sendiri.

Penghitaman dilakukan dengan  pencelupan dengan membuat pasta dari daun tertentu yang mengandung tannin, dan erth whichin sangat kaya zat besi. Pasta ini menempel di gigi dan disimpan disuatu tempat sepanjang malam dengan sepotong daun pisang. Tannic asam tersebut yang membentuk warna gigi  gigi.  ( oleh frans aso )

—> The Dayaks find black teeth beautiful. The blacket the teeth, the better. The reason for this is problaby that black teeth are invisible to the spirits, who are thus led to suppose that they have been pulled out and offered as sacrifice to themselves.

The dyeing is done by making a paste of certain leaves containing tannin, and erth whichin very rich in iron. This paste is plastered over the teeth and kept in place all night by a piece of banana leaf. The tannic acid formed discolours the teeth. ( by frans aso )

Enseval PT, perusahaan Farmasi Pertama

panglima Enggang

panglima Enggang

Dibawah komando Panglima ENGGANG (banch manager), PT Enseval Putera Megatrading, Tbk mengadakan acara sekaligus wisata ke Pampang. tak tanggung tanggung sekitar 250 karyawan beserta keluarga memenuhi balai lamin.

“Dalam kesempatan yang baik ini, kami sengaja membawa karyawan & keluarga ke Pampang, agar karyawan lebih mengenal dan mencintai budaya khas Kaltim ini juga untuk mendukung program CSR yang sedang didengungkan oleh Perusahaan..” demikian dikatakan oleh Panglima ENGGANG ( branc manager PT Enseval Samarinda)

Selain PT. Enseval, PT Kalbe Farma Samarinda dibawah komando Bpk. Nyarmin, juga mulai bersedia memberikan support dari sisi promosi wisata Pampang dengan membuat spanduk-spanduk yang terpasang dibeberapa sudut kota beberapa waktu yang lalu.  ( oleh frans aso )

—>Under the command of Commander ENGGANG (banch manager), PT Enseval Putera Megatrading, Tbk held at the same time to Pampang tour. not bear responsibility approximately 250 employees and their families meet Lamin hall.

“In this excellent opportunity, we are deliberately bringing employees & families to Pampang, so that employees get to know and love the unique culture of East Kalimantan also to support the CSR program being buzzed by the company ..” it was said by the Commander of the ENGGANG (branc manager of PT Enseval Samarinda)

In addition to PT. Enseval, PT Kalbe Farma Samarinda under the command of Mr. Nyarmin, also began willing to provide support in terms of tourism promotion Pampang by making banners that were installed in some corner of the city some time ago. (By frans aso)

Telinga Panjang

frsTelinga Panjang menjadi ciri khas orang Dayak, pada jaman dahulu hampir semua orang Dayak baik laki laki maupun perenpuan bertelinga panjang.  Menurut Amai Pebulung ( seorang tetua suku Dayak Pampang ), Orang dayak  dahulu banyak hidup di hutan, ingin membedakan antara manusia dengan monyet, “Jika telinganya pendek berarti dia itu monyet…..” demikian dikatakan oleh amai Pebulung sambil tertawa terkekeh kekeh…

Untuk kaum wanita jika telinganya semakin panjang dan bandul telinganya semakin banyak maka dia semakin cantik. Untuk kaum lelakinya biasanya bandul telinganya dibuat ukir-ukiran.

Di desa Pampang masih ada beberapa ibu-ibu yang bertelinga panjang, dan juga beberapa tetua adat yang masih bertelinga panjang. Sementara itu untuk generasi mudanya sudah tidak lagi membuat teliga panjang  ( oleh frans aso )

—-> Ear length is characteristic of the Dayaks, in the past almost everyone either male Dayak and long-eared women. According Amai Pebulung (A Pampang Dayak tribal elders), The first dayak many live in the forest, to distinguish between humans and monkeys, “If the short ears mean he’s a monkey …..” Thus Pebulung Amai said with a laugh  …

For women if the ears get longer and more ear pendant she was more beautiful then. For the boys usually pendant ears made carvings.

In the village Pampang there are still some mothers who are ear length, and also some traditional elders who are long-eared. Meanwhile, for the younger generation no longer make long ears (by frans aso)

legenda Suku Dayak Kenyah Pampang

borneoPAMPANG merupakan pilihan Wisata Budaya yang KHAS dan menarik di kota Samarinda. Kehidupan asli Suku Dayak Kenyah yang sebagian besar berasal dari pegunungan Apo Kayan yang berbatasan dengan Malaysia. Pampang mudah dijangkau dari pusat kota Samarinda. Dapat ditempuh hanya dalam waktu 40 menit dari pusat kota, dan hanya 20 menit dari terminal Lempake. Perjalanan ke Pampang dapat dilakukan dengan menggunakan kendaraan bermotor ( Sepeda motor, Mobil, Bus, taxi/angkot ).

===>Pampang is the one choise of specific and interested cultural Tour in Samarinda. The real life of Dayak Kenyah is from Apo Kayan mountains. Pampang is easy to reach from Samarinda only 40 minutes, and 20 minutes from halte of Lempake. Travelling to Pampang could ride by motorcycle, car, bus, taxi/other public transportation.

==========================================================

Mata pencaharian masyarakat Pampang adalah dari bertani, berkebun dan membuat kerajinan. Ditengah-tengah perkampungan berdiri kokoh Balai Lamin Adat, biasa disebut UMA’ DADO’, sebagai tempat pusat kesenian, dan tempat pertemuan Adat.

===>Almost all people in Pampang work as farmer, gardener or making some art. There is UMA’ DADO’, a traditional building in the middle of them, as a central living, as a central artistic & a place for traditional meeting.

============================================================

Sebagai suku yang masih menjunjung tinggi nilai Adat dan Kesenian, warga Pampang secara rutin mengadakan Atraksi seni budaya tarian tradisional, yang merupakan tradisi Suku Dayak Kenyah secara turun temurun. Menyaksikan tarian ini, anda akan serasa dibawa kedalam petualangan kehidupan Suka Kenyah di pedalaman hutan Kalimantan. Berbagai jenis atraksi akan ditampilkan antara lain :  **Tari Gong    **Tari Perang    **Tari pengusir Roh   .   Anda juga bisa menyaksikan secara langsung rahasia pemakaian senjata SUMPIT.  Tak kalah menarik,  diakhir acara anda bisa berfoto dengan ibu bertelinga Panjang, Para penari, atau gadis-gadis suku Kenyah yang dikenal cantik-cantik.

===>  The people of Pampang, as traditional people, always attrac a traditional dance, which is a traditional dance of Dayak Kenyah. Watching this traditional dance, make us feel deep inside of the experience of Dayak Kenyah in Borneo Forest.  All kind of dancing shown, such as :  **Gong Dance   **War Dance   **Ghost Rappellent Dance, etc.  You can also see the secret of using  “SUMPIT”, and can take a picture with a woment who has long ears or the famous of beautiful Kenyah girls.

============================================================

Atraksi Budaya tarian ini dapat disaksikan setiap : Hari minggu jam  14.00 -15.00 wita. Bertempat di : Balai Lami Adat Taman Wisata Budaya Pampang, Sei Siring, Samarinda, Kalimantan Timur.  ***Jika Anda sedang berwisata atau melakukan perjalanan di Samarinda rasanya sayang jika moment ini dilewatkan ……!!!!

===> This traditional attraction coul see at :  Sunday, star at 2.00pm until 3.00pm, Place : Balai Lamin Adat, Taman Wisata Budaya Pampang, Sei Siring Samarinda, East Borneo.     *** If  you on travelling in Samarinda, is not Complete before you come to Pampang…..!!!!

===========================================================

Pada hari-hari biasa anda juga bisa mengunjungi Pampang, dan jika anda atau rombongan ingin menyaksikan  Atraksi tarian selain hari minggu, maka anda bisa melakukan request khusus ( dengan biaya tertentu ) .  Silahkan menghubungi pengurus kesenian :  Uyang Ajan-08125886064,  Frans Aso-08192609997,  amai Pujang-085250923853 .

Ingin souvenir buatan tangan masyarakat Dayak Kenyah Pampang ( Mandau, Sampek, Sumpit dll ), tentu hanya bisa didapatkan di Kawasan Wisata Pampang.

Informasi ini dibuat oleh UMA’ DADO’ SUNI ASO  Pampang 2009.Create by. UMA’ DADO’ SUNI ASO Pampang. 2009.