Kampung EHENG, Kutai Barat…catatan perjalanan

Rabu, 03 Februari 2010  saya bersama 2 orang teman melakukan perjalanan ke Kutai Barat, tujuan utama sih urusan dinas. Namun karena beberapa minggu sebelumnya saya melihat postcard bergambar LAMIN EHENG yang berada di Kutai Barat, maka kesempatan ini tak baik jika disia-siakan, pepatah mengatakan sambil menyelam minum air atau sekali merengkuh dayung 3 pulau terlampaui.

Pertama kami malakukan perjalanan ke Melak, perjalanan darat ke Melak ditempuh dalam waktu 7 jam.

TERING …

Kamis, 04 Februari 2010 kami bergegas untuk urusan kerja menyisir dari Barong Tongkok sampai dengan Tering.  Rupanya di Tering sedang terjadi banjir air pasang Sungai Mahakam, sehingga kami memutuskan untuk tidak meneruskan perjalanan ke Tering sebrang.

Dari Tering kami memutuskan kembali ke Barong Tongkok untuk menyelesaikan urusan pekerjaan.  Setelah urusan pekerjaan selesai, kamipun berputar putar di Barong Tongkok.

LINGGANG MELAPEH …

Dalam perjalanan tersebut secara tidak sengaja kami menemukan sebuah kampung Adat yang didiami warga suku Dayak, setelah bertanya ke beberapa orang kami mendapat informasi bahwa dikampung tersebut terdapat LAMIN Adat yang cukup besar.  Wah, seperti mendapat energi baru, kamipun segera tancap gas meluncur ke kampung tersebut.

Rasa letih dan lelah benar benar sirna saat kami  tiba di kampung yang didalamnya berdiri dengan megah sebuah LAMIN dengan tiang tiang penyangga terbuat dari gelondongan kayu ulin berukir.

Inilah Kampung LINGGANG MELAPEH yang  dihuni oleh warga Dayak dari bermacam macam sub suku.  Tidak mau menyia-nyiakan kesempatan, kami segera berpose untuk berfoto-foto. Disaat kami sedang berfoto-foto , beberapa Amai (Bapak) mendekati kami dan menyapa dengan ramah. Bahkan dengan senang hati menjelaskan keberadaan LAMIN tersebut. Kami mengatakan kepada Amai tersebut bahwa kami berasal dari desa PAMPANG Samarinda, diluar dugaan  ternyata Amai tersebut sudah tahu tentang desa Pampang bahkan beberapa kali pernah datang untuk keperluan adat.

DANAU ACCO …

Setelah beberapa saat kami singgah di Lamin MELAPEH, maka kami minta pamit  untuk melanjutkan perjalanan, namun seorang Amai memberi tahukan kepada kami  adanya sebuah danau yang bagus yang terletak di pinggir kampung Linggang Melapeh. Tanpa pikir panjang, kami segera meluncur ke arah yang ditunjuk Amai tersebut.   Oh.. ternyata masuk hutan, dengan jalan yang extrim ( kata teman saya…), jantung kami mulai berdebar karena rasanya jauh benar kami sudah masuk ke hutan.  Namun tekad kami bulat harus sampai ke danau tersebut, walau masuk hutan kami merasa tenang karena daerah tersebut di diami oleh warga dayak yang dikenal baik.

Kenekatan kami tidak sia-sia, ketika di depan kami terpampang papan nama  berbunyi ” DANAU ACCO”.  Kami segera turun dari mobil dan berhambur ingin melihat di bawah sana…. . Ternyata Luar Biasa ..sebuah Danau Mungil yang menyejukkan hati… silahkan lihat di foto.. Sayang sekali danau sabagus ini belum dipromosikan sebagai daerah tujuan wisata .

EHENG…

Beberapa saat kami bersantai di pinggir danau , tiba tiba gerimis mengundang. akhirnya kami memutuskan meninggalkan danau, maklum disana hanya ada kami bertiga.

Kami melanjutkan perjalanan ke Sendawar untuk mencari kampung EHENG, rupanya cukup mudah mencari kampung EHENG hampir setiap orang di Sendawar mengetahui kampung ini.  Konon di kampung EHENG ini  ada sebuah LAMIN panjang yang masih ditempati oleh warga sub suku Dayak Benuaq. Setelah 20 menit perjalanan, akhirnya sampailah kami didepan LAMIN EHENG. Lega rasanya, rasa penasaran yang lama terpendam, akhirnya terobati.

Kami sempat bertamu dan masuk ke dalam lamin,  diterima dan berbicara lama dengan keluarga yang katanya adalah wakil kepala adat. Sebentar kemudian beberapa penghuni LAMIN lainnya berkerumun menghampiri kami .

Para penghuni lamin disini ramah-ramah dan baik menerima kami, mereka juga bisa berbahasa indonesia walaupun terkadang kami harus mengulang kata demi kata dengan jelas. Menurut wakil kepala adat, LAMIN EHENG di huni oleh sekitar 32 kepala keluarga, dan sudah berdiri sejak tahun 1962. Mata pencaharian kebanyakan dari berladang dan membuat kerajinan.  Kepala adat tidak tinggal di LAMIN namun memiliki rumah tersendiri.

Disela obrolan kami, mereka bertanya asal kami… kami mengatakan bahwa kami datang dari Pampang Samarinda. Mereka mengatakan  tahu juga tentang Pampang, bahkan beberapa orang pernah datang ke Pampang untuk keperluan adat.

Sekian lama kami ngobrol, mata kami mulai melirik ke tumpukan kerajinan tas rotan yang baru saja dikeluarkan dari dalam kamar oleh istri wakil kepala adat tersebut. Tas tersebut unik dan khas, tak ingin menyesal maka kami membeli 4 buah tas sebagai kenangan…

Sayangnya LAMIN EHENG ini tidak dikembangkan sebagai daerah wisata Budaya. Melihat keaslian dan letaknya yang mudah dijangkau,  Lamin Eheng mestinya dapat dikembangkan menjadi Lokasi Wisata Budaya yang menarik.

TAMAN ADAT ….

Kami juga amat kagum dan memberikan acungan dua jempol kepada pemda Kutai Barat , kami melihat sedang dibangun Taman Adat yang amat luas dan megah.  Mestinya pemikiran ini bisa di tiru oleh Pemkot Samarinda…..

Jadi tidak salah jika kami ikut mengatakan untuk KUTAI BARAT ,  Teruskan..!!! “


Iklan

Panglima Sumpit ada di Bali ? siapa sangka..?

GWK Bali, 12 Januari 2010

Waktu menunjukkan pukul 20.30 wita. Di tengah acara makan malam sebuah perusahaan swasta nasional yang terkemuka, disamping kolam sekelompok pemusik  mulai memainkan musik gamelan khas Bali dengan apik , sambil makan para pengunjung terlihat asyik menikmati alunan musik tersebut.

Sebentar kemudian seorang gadis bali dengan pakaian khas daerah mulai melenggak lenggok dengan gemulai nenarikan tarian khas Bali.  Para pengunjung semakin terpukau dan hanyut dalam alunan musik dan tari, sejurus kemudian mulai terlihat beberapa pengunjung memasuki panggung arena menari, mereka asyik ikut menari bersama gadis penari bali tersebut.

Setelah beberapa lelaki tersebut turun dari panggung, dilanjutkan oleh tampilnya seorang lelaki berbaju batik ke atas panggung, Lelaki tersebut mulai menari dengan gerakan-gerakan khas yang tidak lazim ada di bali, beberapa pengunjung mulai berteriak ..itu tari Dayak.. itu tari Dayak…, laki laki itupun asyik menari dengan iringan musik Bali….

Banyak pengunjung yang kagum dan terheran-heran dengan tarian lelaki tersebut, namun mungkin tak ada satupun yang menyangka Panglima Sumpit bersama mereka.   by. frans aso

Sumpit beracun

Tarian ini belum banyak di ekspos, belum banyak di ketahui bahkan belum menjadi sajian utama dalam atraksi seni budaya Dayak di desa Pampang.  Ibarat menu masakan tari menyumpit/tari berburu ini adalah menu khusus atau menu bonus.  Penyebabnya adalah sebagian besar warga enggan untuk menanpilkan kemahiran menyumpit tersebut dalam sebuah tarian, karena sumpit dianggap sebagai senjata rahasia.

Namun demikian dalam setiap penampilannya, Tari sumpit menjadi tarian yang paling menarik dan membuat detak jantung para pengunjung berdegub kencang.  Kenapa demikian ??? ada baiknya saksikan sindiri, karena tarian ini hanya ada di Desa Pampang.

Tari menyumpit/Tari berburu menceritakan pamuda dayak  dalam membela diri dengan senjata khas yaitu MANDAU,  dilanjutkan dengan kepiawaian berburu di hutan dengan senjata sumpit ( tombak panjang, berlubang didalamnya ).

Pengunjung akan melihat secara langsung bagaimana senjata sumpit di gunakan, bagaimana anak-anak sumpit tersebut bisa menancap pada batang-batang kayu ulin. Kalo lagi beruntung pengunjung akan diminta untuk mencoba meniup sumpit tersebut ke sasaran yang telah disiapkan.

Saksikan petualangan menarik ini hanya di Desa Pampang, Samarinda.  by frans aso

Pesparawi IX, Luar Biasa

IMGA0666Stadion Madya Sempaja Samarinda, minggu 8 Nopember 2009 di padati oleh ribuan warga baik yang berasal dari kota Samarinda maupun berbagai kota di seluruh Indonesia.  Mereka ingin menyaksikan pembukaan Pesta Paduan Suara Gerejawi Nasional ke IX.

Acara berlangsung dengan amat meriah, diantaranya adalah selebrasi peserta dari Papua yang menarik perhatian pengunjung.  IMGA0703Dalam acara pembukaan tersebut ditampilkan tarian kolosal yang amat spektakuler, yang melibatkan warga Dayak dari berbagai sub Suku yang ada di Kaltim antara lain Dayak Kenyah, Dayak Krayan, Dayak Tunjung dll.

Tarian kolosal tersebut dimulai dengan cerita jaman kegelapan dan penyembahan berhala yang dianut warga Dayak pada masa lampau,  dilanjutkan dengan perang antar suku yang sering terjadi dalam kehidupan masyarakat dayak pada masa lampau mengandalkan DSC01376kekuatan kegelapan,dukun-dukun. Namun pada akhirnya kekuatan dukun-dukun tersebut tidak dapat mengalahkan kekuatan Allah.

Pada akhirnya, mereka meninggalkan kekuatan kegelapan dan mengakui kekuatan tertinggi datangnya dari Allah, dan pada akhirnya kehidupan damai mereka dapatkan sampai saat ini.

Dalam tarian kolosan tersebut, sekitar 120 orang muda-mudi warga Suku Dayak Kenyah Pampang ikut serta dengan menyajikan TARI PERANG dibawah komando Martinus Usat..

(oleh frans aso )

 

Team Seni Budaya Malinau ke Melbourne

Panglima Sumpit DayakPemerintah Kabupaten Malinau memberikan perhatian yang besar terhadap pelestarian Seni Budaya Daerah Khas Kalimantan. Luar biasa.., dibawah komando Bupati Malinau Dr Drs Marthin Billa MM, team Seni tari Malinau sudah berhasil menenbus dan memperkenalkan budaya asli Kalimantan ke Jakarta dan berbagai negara baik asia maupun eropa, antara lain Jerman dan terakhir ke Merbourne.
Bagaimana dengan pemkot Samarinda…??? kita masih menunggu “keajaiban”.
Selamat untuk Pak Bupati Malinau, dan Kabupaten Malinau . ( oleh frans aso )

—> Malinau District Government to give greater attention to the preservation of the Regional Cultural Art  Kalimantan. Incredibly, under the command of the Malinau Regent Drs Dr Martin Billa MM, dance art team has succeeded in Malinau shown and introducing native culture Kalimantan to Jakarta and various countries both asia and europe, including Germany and the last to Merbourne.
What about the clerk’s Samarinda …??? we are still waiting for “miracles”.
Welcome To Mr. Malinau Regent, and Malinau. (By frans aso)

Video Seni Tradisional suku Dayak Pampang

Atraksi kesenian suku dayak Kenyah ini bisa disaksikan secara rutin setiap hari minggu antara jam 14.00 s/d 15.00 WITA bertempat di Balai Lamin Adat Pampang Samarinda Kalimantan Timur.

Jaraknya cukup dekat dari pusat kota Samarinda, dari Terminal Lempake hanya 20 menit perjalanan dengan kendaraan bermotor. Komitment para tetua adat dan masyarakat Pampang atraksi ini akan terus dilestarikan walaupun perhatian dari pemerintah amat memprihatinkan.

“Kami menari bukan semata-mata karena uang, tetapi kami ingin melestarikan Budaya warisan para leluhur” demikian kata seorang tetua adat. Semoga saja terjadi suatu keajaiban, sehingga Pemda Kaltim yang kaya raya ini dapat memberikan perhatian serius terhadap sektor Budaya, para pengusaha yang peduli terhadap citra budaya Kaltim, sudah saatnya kita memulai sekecil apapun berani memulai itu lebih baik…. ( oleh frans aso )

Potong rambut—-> Attractions Dayak Kenyah art can be seen on a regular basis every day of the week between the hours of 14:00 s / d located at Central 15:00 Lamin Indigenous Pampang Samarinda in East Kalimantan.

The distance is close enough from the center of Samarinda, the Terminal Lempake only 20 minutes journey by motor vehicle. Commitment of indigenous elders and community Pampang this attraction will continue to be preserved even if the attention of the government is very concerned.

“We dance not solely because of money, but we want to preserve the culture heritage of the ancestors” said an indigenous elder. Let’s hope a miracle occurs, so that local government of a wealthy East Kalimantan can give serious attention to the culture sector, the businessmen who care about the image Kaltim culture, it’s time we start the slightest courage to start it better …. (By frans aso)

Generasi muda Dayak

latihan tari perang suku kenyah

latihan tari perang suku kenyah

Minggu, 27 September 2009, Pampang Samarinda Kaltim, 20 menit dari terminal Lempake.

Minggu sore ini terasa berbeda dengan berkumpulnya puluhan pemuda-pemudi Suku Dayak Kenyah Pampang.  Mereka berkumpul didepan balai lamin Adat untuk melakukan gladi bersih sebuah tarian massal yang akan segera mereka lakukan disebuah acara di kota Samarinda.

Tampak sibuk memberikan latihan dan instruksi dua orang tokoh kesenian yang mewakili tokoh tua dan tokoh muda.  Mereka adalah Martinus usat mewakili tokoh muda dan Amai Pujang mewakili tokoh tua.

Semangat generasi muda Dayak Pampang dalam melestarikan budaya ini patut diacungi dua jempol, mengingat masih minimnya perhatian dari pemerintah daerah dalam mensupport desa Budaya Pampang.  ( oleh frans aso )

gadisSunday, September 27, 2009, Pampang Samarinda East Kalimantan, 20 minutes from the terminal Lempake.

Sunday this afternoon felt different with the gathering of dozens of young Pampang Dayak Kenyah tribe. They gathered in front of the hall Lamin Ceremony rehearsal for a mass dance which will soon show they do in the city  Samarinda.

Look busy providing training and instruction of two figures representing the arts of old and young leaders. They are represented usat Martinus young people and leaders representing Pujang Amai old.

The spirit of the young generation in preserving the Dayak culture Pampang deserve  thumbs praised, considering the lack of attention from local governments in supporting village Pampang Culture. (by frans aso)

Published in: on September 28, 2009 at 1:43 pm  Comments (1)  
Tags: , , ,

Tari GONG, traditional dance from Pampang

tari gongGadis-gadis suku Dayak Kenyah  dikenal dengan kecantikannya. Mereka sebagian besar amat  pandai menari, yang merupakan bagian tak terpisahkan dalam kehidupan sehari hari. Tari Gong menceritakan kemolekan seorang gadis yang menari dengan gemulai diatas sebuah gong,  dimana gadis tersebut akan diperebutkan oleh 2 orang Pemuda Dayak yang gagah perkasa.

Kedua pemuda tersebut akan bertarung secara ksatria, sampai dengan salah satu diantaranya kalah. Dan akhirnya sang pemenang akan kembali bersama si gadis .

Saksikan tarian ini setiap hari minggu jam 14.00-15.00 wita. Di taman Wisata Budaya Pampang, Samarinda, kalimantan Timur.  (by frans aso)

—> Girls Dayak Kenyah tribe known for its beauty. They are mostly very good at dancing, which is an integral part of daily life. Dance Gong told loveliness of a girl who danced with graceful steps on a gong, which she will be contested by 2 people who Dayak Youth gallant.

Both these young men will fight knights, until one of them lost. And finally the winner will be back with the girl.

Watch this dance every day of the week at 14.00-15.00 wita. Cultural Tourism in the park Pampang, Samarinda, East kalimantan. (by frans aso)

Published in: on September 3, 2009 at 11:50 am  Tinggalkan sebuah Komentar  
Tags: , ,