Kampung EHENG, Kutai Barat…catatan perjalanan

Rabu, 03 Februari 2010  saya bersama 2 orang teman melakukan perjalanan ke Kutai Barat, tujuan utama sih urusan dinas. Namun karena beberapa minggu sebelumnya saya melihat postcard bergambar LAMIN EHENG yang berada di Kutai Barat, maka kesempatan ini tak baik jika disia-siakan, pepatah mengatakan sambil menyelam minum air atau sekali merengkuh dayung 3 pulau terlampaui.

Pertama kami malakukan perjalanan ke Melak, perjalanan darat ke Melak ditempuh dalam waktu 7 jam.

TERING …

Kamis, 04 Februari 2010 kami bergegas untuk urusan kerja menyisir dari Barong Tongkok sampai dengan Tering.  Rupanya di Tering sedang terjadi banjir air pasang Sungai Mahakam, sehingga kami memutuskan untuk tidak meneruskan perjalanan ke Tering sebrang.

Dari Tering kami memutuskan kembali ke Barong Tongkok untuk menyelesaikan urusan pekerjaan.  Setelah urusan pekerjaan selesai, kamipun berputar putar di Barong Tongkok.

LINGGANG MELAPEH …

Dalam perjalanan tersebut secara tidak sengaja kami menemukan sebuah kampung Adat yang didiami warga suku Dayak, setelah bertanya ke beberapa orang kami mendapat informasi bahwa dikampung tersebut terdapat LAMIN Adat yang cukup besar.  Wah, seperti mendapat energi baru, kamipun segera tancap gas meluncur ke kampung tersebut.

Rasa letih dan lelah benar benar sirna saat kami  tiba di kampung yang didalamnya berdiri dengan megah sebuah LAMIN dengan tiang tiang penyangga terbuat dari gelondongan kayu ulin berukir.

Inilah Kampung LINGGANG MELAPEH yang  dihuni oleh warga Dayak dari bermacam macam sub suku.  Tidak mau menyia-nyiakan kesempatan, kami segera berpose untuk berfoto-foto. Disaat kami sedang berfoto-foto , beberapa Amai (Bapak) mendekati kami dan menyapa dengan ramah. Bahkan dengan senang hati menjelaskan keberadaan LAMIN tersebut. Kami mengatakan kepada Amai tersebut bahwa kami berasal dari desa PAMPANG Samarinda, diluar dugaan  ternyata Amai tersebut sudah tahu tentang desa Pampang bahkan beberapa kali pernah datang untuk keperluan adat.

DANAU ACCO …

Setelah beberapa saat kami singgah di Lamin MELAPEH, maka kami minta pamit  untuk melanjutkan perjalanan, namun seorang Amai memberi tahukan kepada kami  adanya sebuah danau yang bagus yang terletak di pinggir kampung Linggang Melapeh. Tanpa pikir panjang, kami segera meluncur ke arah yang ditunjuk Amai tersebut.   Oh.. ternyata masuk hutan, dengan jalan yang extrim ( kata teman saya…), jantung kami mulai berdebar karena rasanya jauh benar kami sudah masuk ke hutan.  Namun tekad kami bulat harus sampai ke danau tersebut, walau masuk hutan kami merasa tenang karena daerah tersebut di diami oleh warga dayak yang dikenal baik.

Kenekatan kami tidak sia-sia, ketika di depan kami terpampang papan nama  berbunyi ” DANAU ACCO”.  Kami segera turun dari mobil dan berhambur ingin melihat di bawah sana…. . Ternyata Luar Biasa ..sebuah Danau Mungil yang menyejukkan hati… silahkan lihat di foto.. Sayang sekali danau sabagus ini belum dipromosikan sebagai daerah tujuan wisata .

EHENG…

Beberapa saat kami bersantai di pinggir danau , tiba tiba gerimis mengundang. akhirnya kami memutuskan meninggalkan danau, maklum disana hanya ada kami bertiga.

Kami melanjutkan perjalanan ke Sendawar untuk mencari kampung EHENG, rupanya cukup mudah mencari kampung EHENG hampir setiap orang di Sendawar mengetahui kampung ini.  Konon di kampung EHENG ini  ada sebuah LAMIN panjang yang masih ditempati oleh warga sub suku Dayak Benuaq. Setelah 20 menit perjalanan, akhirnya sampailah kami didepan LAMIN EHENG. Lega rasanya, rasa penasaran yang lama terpendam, akhirnya terobati.

Kami sempat bertamu dan masuk ke dalam lamin,  diterima dan berbicara lama dengan keluarga yang katanya adalah wakil kepala adat. Sebentar kemudian beberapa penghuni LAMIN lainnya berkerumun menghampiri kami .

Para penghuni lamin disini ramah-ramah dan baik menerima kami, mereka juga bisa berbahasa indonesia walaupun terkadang kami harus mengulang kata demi kata dengan jelas. Menurut wakil kepala adat, LAMIN EHENG di huni oleh sekitar 32 kepala keluarga, dan sudah berdiri sejak tahun 1962. Mata pencaharian kebanyakan dari berladang dan membuat kerajinan.  Kepala adat tidak tinggal di LAMIN namun memiliki rumah tersendiri.

Disela obrolan kami, mereka bertanya asal kami… kami mengatakan bahwa kami datang dari Pampang Samarinda. Mereka mengatakan  tahu juga tentang Pampang, bahkan beberapa orang pernah datang ke Pampang untuk keperluan adat.

Sekian lama kami ngobrol, mata kami mulai melirik ke tumpukan kerajinan tas rotan yang baru saja dikeluarkan dari dalam kamar oleh istri wakil kepala adat tersebut. Tas tersebut unik dan khas, tak ingin menyesal maka kami membeli 4 buah tas sebagai kenangan…

Sayangnya LAMIN EHENG ini tidak dikembangkan sebagai daerah wisata Budaya. Melihat keaslian dan letaknya yang mudah dijangkau,  Lamin Eheng mestinya dapat dikembangkan menjadi Lokasi Wisata Budaya yang menarik.

TAMAN ADAT ….

Kami juga amat kagum dan memberikan acungan dua jempol kepada pemda Kutai Barat , kami melihat sedang dibangun Taman Adat yang amat luas dan megah.  Mestinya pemikiran ini bisa di tiru oleh Pemkot Samarinda…..

Jadi tidak salah jika kami ikut mengatakan untuk KUTAI BARAT ,  Teruskan..!!! “


Iklan

gigi Hitam

Dayak teethWarga Dayak beranggapan bahwa  gigi hitam adalah cantik. Semakin hitam  gigi, semakin baik. Alasannya  untuk ini adalah bahwa dengan  gigi hitam tidak terlihat kepada roh-roh, sehingga  dengan demikian dipimpin untuk mempercayai  bahwa mereka telah terhindar sebagai bahaya dan dapat menjaga diri mereka sendiri.

Penghitaman dilakukan dengan  pencelupan dengan membuat pasta dari daun tertentu yang mengandung tannin, dan erth whichin sangat kaya zat besi. Pasta ini menempel di gigi dan disimpan disuatu tempat sepanjang malam dengan sepotong daun pisang. Tannic asam tersebut yang membentuk warna gigi  gigi.  ( oleh frans aso )

—> The Dayaks find black teeth beautiful. The blacket the teeth, the better. The reason for this is problaby that black teeth are invisible to the spirits, who are thus led to suppose that they have been pulled out and offered as sacrifice to themselves.

The dyeing is done by making a paste of certain leaves containing tannin, and erth whichin very rich in iron. This paste is plastered over the teeth and kept in place all night by a piece of banana leaf. The tannic acid formed discolours the teeth. ( by frans aso )

Telinga Panjang

frsTelinga Panjang menjadi ciri khas orang Dayak, pada jaman dahulu hampir semua orang Dayak baik laki laki maupun perenpuan bertelinga panjang.  Menurut Amai Pebulung ( seorang tetua suku Dayak Pampang ), Orang dayak  dahulu banyak hidup di hutan, ingin membedakan antara manusia dengan monyet, “Jika telinganya pendek berarti dia itu monyet…..” demikian dikatakan oleh amai Pebulung sambil tertawa terkekeh kekeh…

Untuk kaum wanita jika telinganya semakin panjang dan bandul telinganya semakin banyak maka dia semakin cantik. Untuk kaum lelakinya biasanya bandul telinganya dibuat ukir-ukiran.

Di desa Pampang masih ada beberapa ibu-ibu yang bertelinga panjang, dan juga beberapa tetua adat yang masih bertelinga panjang. Sementara itu untuk generasi mudanya sudah tidak lagi membuat teliga panjang  ( oleh frans aso )

—-> Ear length is characteristic of the Dayaks, in the past almost everyone either male Dayak and long-eared women. According Amai Pebulung (A Pampang Dayak tribal elders), The first dayak many live in the forest, to distinguish between humans and monkeys, “If the short ears mean he’s a monkey …..” Thus Pebulung Amai said with a laugh  …

For women if the ears get longer and more ear pendant she was more beautiful then. For the boys usually pendant ears made carvings.

In the village Pampang there are still some mothers who are ear length, and also some traditional elders who are long-eared. Meanwhile, for the younger generation no longer make long ears (by frans aso)

Video Seni Tradisional suku Dayak Pampang

Atraksi kesenian suku dayak Kenyah ini bisa disaksikan secara rutin setiap hari minggu antara jam 14.00 s/d 15.00 WITA bertempat di Balai Lamin Adat Pampang Samarinda Kalimantan Timur.

Jaraknya cukup dekat dari pusat kota Samarinda, dari Terminal Lempake hanya 20 menit perjalanan dengan kendaraan bermotor. Komitment para tetua adat dan masyarakat Pampang atraksi ini akan terus dilestarikan walaupun perhatian dari pemerintah amat memprihatinkan.

“Kami menari bukan semata-mata karena uang, tetapi kami ingin melestarikan Budaya warisan para leluhur” demikian kata seorang tetua adat. Semoga saja terjadi suatu keajaiban, sehingga Pemda Kaltim yang kaya raya ini dapat memberikan perhatian serius terhadap sektor Budaya, para pengusaha yang peduli terhadap citra budaya Kaltim, sudah saatnya kita memulai sekecil apapun berani memulai itu lebih baik…. ( oleh frans aso )

Potong rambut—-> Attractions Dayak Kenyah art can be seen on a regular basis every day of the week between the hours of 14:00 s / d located at Central 15:00 Lamin Indigenous Pampang Samarinda in East Kalimantan.

The distance is close enough from the center of Samarinda, the Terminal Lempake only 20 minutes journey by motor vehicle. Commitment of indigenous elders and community Pampang this attraction will continue to be preserved even if the attention of the government is very concerned.

“We dance not solely because of money, but we want to preserve the culture heritage of the ancestors” said an indigenous elder. Let’s hope a miracle occurs, so that local government of a wealthy East Kalimantan can give serious attention to the culture sector, the businessmen who care about the image Kaltim culture, it’s time we start the slightest courage to start it better …. (By frans aso)

Ritual Pemakaman Kepala Adat

PAMPANG, 20 menit dari terminal Lempake Samarinda Utara, Kalimantan Timur.

Kepala Adat / Kepala Suku, dalam tradisi kehidupan masyarakat Dayak menjadi sosok yang lebih dihormati daripada tokoh pemerintahan seperti RT atau Lurah.  Kepala Adat menjadi tokoh sentral dalam kehidupan masyarakat adat.

Segala permasalahan yang timbul ditengah masyarakat, akan terselesaikan apabila kepala adat turun tangan. Biasanya Kepala Adat akan dipilih dari orang yang memiliki keturunan bangsawan.

Penghormatan terhadap kepala Adat akan dilakukan oleh warga bahkan sampai dengan saat kepala Adat tersebut meningal dunia. Upacara dan ritual adat akan dilakukan secara besar besaran melibatkan seluruh warga.  Hal tersebut masih terjadi di desa budaya Pampang.

Pada saat kepala Adat meninggal dunia,  akan disemanyamkan di Balai Lamin Adat, jenasah akan disemayamkan selama beberapa hari dengan tujuan menunggu kedatangan sanak keluarga dari berbagai daerah di pedalaman Kaltim. Selama berhari-hari masyarakat secara bergotong royong bahu membahu mempersiapkan tempat pemakaman, upacara pemakaman dan peti jenasah.  Peti jenasah dibuat dari gelondongan kayu ulin besar yang di beri lubang ditengahnya dan bagian luarnya akan diukir.  Sementara di lokasi pemakaman disiapkan rumah  dari kayu ulin beratap sirap untuk melindungi lubang kubur, juga disiapkan nisan terbuat dari gelondongan kayu ulin yang diukir.

Pada waktu yang telah dijadwalkan , jenasah/peti jenasah  akan diletakkan diatas rangkaian puluhan batang bambu dan diangkat oleh ratusan warga. Ritual acara pemakaman akan dipimpin oleh orang khusus dan beberapa pendeta. Selama arak-arakan akan diiringi oleh warga dan pasukan perang dengan pakaian adat lengkap.  (oleh frans aso )

Makam—-> Pampang, 20 minutes from the terminal Lempake North Samarinda, East Kalimantan.

Head Ceremony Chieftains, in the tradition of the Dayak community life figure who is more respected than the government figures such as RT or Lurah. Traditional head into the central figure in the lives of indigenous peoples.

Any problems that arise in the middle of society, will be resolved if the chiefs to intervene. Traditional Head will usually be chosen from those who have royal blood.

Respect for customary chief would be carried out by people even up to the head of the Indigenous meningal world. Customary rites and rituals will be performed on a large scale involving all citizens. This is still happening in villages Pampang culture.

At the time of death Indigenous head, will in the Central disemanyamkan Indigenous Lamin, the body would rest for a few days with the goal waiting for the relatives of the various regions in the interior of East Kalimantan. For days the community work together hand in hand to prepare the cemetery, funeral and casket body. Casket body is made from ironwood logs large hole in the berries and inner be carved on the outside. While the location of the funeral home prepared ironwood shingle roofs to protect the grave, also prepared headstone made of logs carved ironwood.

At the scheduled time, the body / casket will be placed above the body of a series of dozens of bamboo stems and appointed by the hundreds of citizens. Funeral ritual will be led by a special person and a priest. During the procession will be accompanied by the citizens and the army with full traditional costume. (by frans aso)

Published in: on Oktober 1, 2009 at 1:15 pm  Tinggalkan sebuah Komentar  
Tags: , , ,

Tarian tradisional Dayak Kenyah

Panglima Sumpit Menari

Panglima Sumpit Menari

Saksikan hanya di Balai Lamin Adat Pampang Samarinda Kaltim, 20 menit dari terminal lempake, setiap hari minggu jam 14.00 s/d 15.00 wita

Tari MENYUMPIT / Tari BERBURU , adalah tarian yang langka. tarian ini amat jarang dipentaskan, karena dalam tarian ini selain kepandaian dalam menari, namun penari juga harus memiliki keahlian dalam menggunakan senjata Tradisional SUMPIT.

Tarian Sumpit yang kadang dipentaskan, biasanya hanya sekedar tarian dengan membawa-senjata sumpit, namun berbeda dengan di Pampang. Tarian sumpit di Pampang selain semuah rangkaian tarian, juga akan dipertontonkan cara menggunakan senjata Sumpit tersebut secara nyata. Anda akan melihat dengan mata kepala sendiri dimana aanak sumpit menancap di balok-balok kayu yang keras.

Ini adalah tarian langka, yang hanya bisa dilihat di Pampang, dan setiap menyaksikan tarian ini penonton akan senantiasa tegang dan heboh.  Situasi akan semakin hebah jika Panglima Sumpit sendiri yang melakukan tarian tersebut. jika beruntung anda bisa berfoto dengan Panglima Sumpit.  (oleh frans aso )

—-> Witnessed only in Central Lamin Samarinda Kaltim Indigenous Pampang, 20 minutes from the terminal lempake, every Sunday at 14:00 s / d 15:00 wita

SUMPIT Dance / Dance BERBURU, is a rare dance. This dance is very rarely performed, because in this dance than skill in dancing, but dancers must also have expertise in using weapons Traditional SUMPIT.

Chopsticks are sometimes dance performed, usually only dance with chopsticks weapons, but unlike in Pampang. Pampang chopstick dance in the dance circuit in addition semuah, will also be shown how to use these weapons in real Chopsticks. You will see with my own eyes where aanak chopsticks stuck in the wooden beams that hard.

This is a rare dance, which can only be seen in Pampang, and every spectator watching this dance will always tense and excited. The situation will become Commander Chopsticks amazing own if doing the dance. if you are lucky you can take pictures with the Commander of the Chopsticks. (by frans aso)

Published in: on September 27, 2009 at 4:10 pm  Tinggalkan sebuah Komentar  
Tags: , ,

Tari LELENG, tarian kebersamaan dengan pengunjung

Tari Leleng

Tari Leleng

Minggu, 27 September 2009 jam 14.00 s/d 15.00 wita
Taman Wisata Budaya Pampang, Samarinda Kaltim
20 menit dari terminal Lempake

Pengunjung Pampang hari ini membludak, hampir semua tempat duduk terisi dan dipenuhi oleh pengunjung yang ingin menyaksikan tarian khas suku Dayak Kenyah . pada awalnya pengunjung yang datang hanya beberapa mobil saja, namun begitu memasuki jam 14.00 wita, secara bergelombang pengunjung berdatangan. Para pengunjung terdiri dari wisatawan Lokal dan wisatawan asing, ada beberapa diantaranya adalah mahasiswa dari Polandia dan Jepang.

Tidak sia-sia karena tarian yang ditampilkan hari ini cukup lengkap, sehingga pengunjung kelihatan amat puas, tepuk tangan terdengar bergemuruh setiap menyaksikan tarian-tarian yang ditampilkan.

Jika anda menyaksikan tarian diPampang, maka jangan buru buru pulang, karena di tarian terakhir akan ditampilkan tarian LELENG, yaitu tarian kenersamaan, yang ditarikan oleh para penari yang telah tampil. Dalam tarian ini pengunjung diajak turut serta untuk ikut menari, hal ini bisa menjadi petualangan dan kenangan tersendiri bagi anda. Pada hari minggu ini para pengunjung amat antusias ikut menari dalam tarian LELENG.

Setelah tarian LELENG, anda bisa minta foto bersama dengan para penarinya, dengan ibu telinga panjang, atau dengan tetua suku. Tidak perlu takut, anda cukup beli tiket untuk foto dan katakan minta mau foto dengan siapa, maka orang yang anda maksud akan dipangilkan. Kalo beruntung anda bisa berfoto dengan Panglima Sumpit, karena panglima Sumpit (penari sumpit) kadang tidak mau diajak berfoto. (oleh frans aso )

foto dengan Panglima Sumpit

foto dengan Panglima Sumpit

Sunday, September 27, 2009 at 14:00 s / d 15:00 wita
Cultural Park Pampang, Samarinda East Kalimantan
20 minutes from the terminal Lempake

—>Visitor booming Pampang today, almost all the seats filled and filled with visitors who want to see the typical dance of Dayak Kenyah tribe. visitors who initially came only a few cars only, but once entered wita 14:00 hours, guests arriving in waves. The visitors consisted of local tourists and foreign tourists, there are a few of them are students from Poland and Japan.

Not in vain because the dances are presented fairly complete today, so the visitors looked very satisfied, thunderous applause every witness dances are shown.

If you watch the dance diPampang, so do not hurry hurry home, because in the last dance will be displayed LELENG dance, which dance kenersamaan, which danced by the dancers who have appeared. In this dance of guests invited to take part to participate in dance, this can be an adventure and special memories for you. On the day of this week the visitors danced very enthusiastically participate in the dance LELENG.

After the dance LELENG, you can ask for photos together with the dancers, with long ears mother, or with tribal elders. No need to fear, you just buy tickets for the photos and asked to photograph say with whom, the person you are meant to dipangilkan. Kalo lucky you can take pictures with the Commander of Chopsticks, because the commander of Chopsticks (dancer chopsticks) sometimes not wanted to have their pictures taken. (By frans aso)

Published in: on September 27, 2009 at 3:34 pm  Comments (2)  
Tags: , , ,

Kawin ADAT Dayak Kenyah, tradisi yang hampir ditinggalkan

Kawin  ADAT  Dayak Kenyah,

Seiring dengan arus modernisasi, maka tradisi dan budaya terkadang mulai tersamarkan bahkan terkikis ouforia berlabel modern.  Hal tersebut juga tengah menimpa masyarakat Dayak, terutama yang telah tinggal diperkotaan.  Sebagian besar dari mereka justru telah meninggalkan tradisi tersebut.

Disinilah keberadaan Desa Budaya Pampang menjadi teramat penting dan sentral sebagai Desa Cagar Budaya Suku Dayak Kenyah.  Di tempat ini dengan segala kesederhanaan masyarakat dayak Kenyah berjuang mempertahankan tradisi dan budayanya.  Selain atraksi kesenian rutin yang dilakukan setiap hari minggu,  setiap acara pernikahan, akan selalu ditutup dengan ritual pernikahan adat.

Acara Pernikahan Adat ini masih dirasa penting oleh warga Pampang untuk mempertahankan tradisi leluhur.  Biasanya dalam Pernikahan Adat akan diawali dari rumah mempelai berupa arak-arakan  menuju Lamin (Rumah Pamjang tempat acara nikah adat). Sesampai di depan Lamin akan disambut oleh sederetan penari dan tetua suku, untuk dilakukan ritual penyambutan memasuki lamin sebagai syarat agar acara dapat berlangsung dengan baik dan lancar.  Setelah itu mempelai akan diarak naik kedalam Balai Lamin untuk mengikuti acara puncak ritual nikah adat.  Acara Nikah adat akan dipimpin oleh para Tetua Suku.

Setelah ritual selesai, acara akan diakhiri dengan atraksi tarian. Disini kedua mempelai dan keluarga mempelai diwajibkan untuk menyumbangkan tarian sebagai wujud suka cita.  Setelah tarian selesai maka kedua mempelai akan diarak kembali menuju rumah. (oleh  frans aso )  …

DSC00222—-> Wedding Ceremony Dayak Kenyah,
Along with the current modernization, the traditions and culture began masked sometimes ouforia labeled eroded even modern. It would also override the Dayak community, especially those who have lived the cities. Most of them actually have to leave tradition.

Culture Village is where the existence of Pampang become extremely important and central as the Heritage Village Dayak Kenyah tribe. In this place with all the simplicity dayak Kenyah communities struggling to maintain tradition and culture. In addition to arts attractions routinely conducted every day of the week, every wedding, will always be closed with the customary marriage rites.

Traditional wedding event is still considered important by the citizens Pampang to maintain ancestral traditions. Usually in the Wedding Ceremony will be preceded by the bride’s house in the form of the procession to the Lamin (Long House where traditional marriage ceremony). Arriving in front of the Lamin will be greeted by an array of dancers and tribal elders, to be entered Lamin welcoming ritual as a condition for the event can go well and smoothly. After that the bride would be led into the Hall Lamin up to attend summit customary marriage rites. Marriage custom event will be led by Tribal Elders.

After the ritual finished, the event will end with a dance attractions. Here the bride and the bridegroom’s family is required to contribute a dance as a form of joy. After the dance is complete then the bride would be led back to the house. (by frans aso) …

Published in: on September 23, 2009 at 3:11 pm  Tinggalkan sebuah Komentar  
Tags: , , , ,

Obyek wisata Samarinda, Cultural Tourism

DAYAK KENYAH FAMILY Pampang, 20 menit dari terminal Lempake Samarinda Utara, adalah   Obyek wisata samarinda yang khas dan menarik.

Kampung dipinggir kota yang didiami oleh warga Suku Dayak Kenyah, dengan jumlah penghuni sekitar seribu jiwa.  Jika kita sedang melakukan perjalanan diKota Samarinda dan kebetulan pada hari minggu,  Pampang bisa menjadi pilihan kunjungan yang menarik.

Jika kebetulan anda menginap di hotel-hotel kota samarinda, dan ingin mengadakan perjalanan wisata menghabiskan libur minggunya, maka informasi ini boleh dipertimbangkan ( Tour Guide ) :

1. 08.00 wita : bangun pagi trus mandi (kata alm. mbah Surip) dan makan pagi.

2.09.00 wita : berkunjung ke Kebun Raya Samarinda (menikmati wisata alam )

3. 11.30 wita : berkunjung ke air terjun Tanah Merah (wisata alam air terjun )

4. 14.00 wita : berkunjung ke Wisata Budaya Pampang ( wisata Budaya Suku Dayak Kenyah, menyaksikan atraksi Budaya  mulai acara jam 14.00 s/d 15.00 ).

5. 16.00  wita : kembali ke base  , wah dah lengkap……………

inilah denahnya   —–>denah pampang by  frans aso.

Published in: on September 15, 2009 at 12:33 pm  Tinggalkan sebuah Komentar  
Tags: , , , ,

legenda Suku Dayak Kenyah Pampang

borneoPAMPANG merupakan pilihan Wisata Budaya yang KHAS dan menarik di kota Samarinda. Kehidupan asli Suku Dayak Kenyah yang sebagian besar berasal dari pegunungan Apo Kayan yang berbatasan dengan Malaysia. Pampang mudah dijangkau dari pusat kota Samarinda. Dapat ditempuh hanya dalam waktu 40 menit dari pusat kota, dan hanya 20 menit dari terminal Lempake. Perjalanan ke Pampang dapat dilakukan dengan menggunakan kendaraan bermotor ( Sepeda motor, Mobil, Bus, taxi/angkot ).

===>Pampang is the one choise of specific and interested cultural Tour in Samarinda. The real life of Dayak Kenyah is from Apo Kayan mountains. Pampang is easy to reach from Samarinda only 40 minutes, and 20 minutes from halte of Lempake. Travelling to Pampang could ride by motorcycle, car, bus, taxi/other public transportation.

==========================================================

Mata pencaharian masyarakat Pampang adalah dari bertani, berkebun dan membuat kerajinan. Ditengah-tengah perkampungan berdiri kokoh Balai Lamin Adat, biasa disebut UMA’ DADO’, sebagai tempat pusat kesenian, dan tempat pertemuan Adat.

===>Almost all people in Pampang work as farmer, gardener or making some art. There is UMA’ DADO’, a traditional building in the middle of them, as a central living, as a central artistic & a place for traditional meeting.

============================================================

Sebagai suku yang masih menjunjung tinggi nilai Adat dan Kesenian, warga Pampang secara rutin mengadakan Atraksi seni budaya tarian tradisional, yang merupakan tradisi Suku Dayak Kenyah secara turun temurun. Menyaksikan tarian ini, anda akan serasa dibawa kedalam petualangan kehidupan Suka Kenyah di pedalaman hutan Kalimantan. Berbagai jenis atraksi akan ditampilkan antara lain :  **Tari Gong    **Tari Perang    **Tari pengusir Roh   .   Anda juga bisa menyaksikan secara langsung rahasia pemakaian senjata SUMPIT.  Tak kalah menarik,  diakhir acara anda bisa berfoto dengan ibu bertelinga Panjang, Para penari, atau gadis-gadis suku Kenyah yang dikenal cantik-cantik.

===>  The people of Pampang, as traditional people, always attrac a traditional dance, which is a traditional dance of Dayak Kenyah. Watching this traditional dance, make us feel deep inside of the experience of Dayak Kenyah in Borneo Forest.  All kind of dancing shown, such as :  **Gong Dance   **War Dance   **Ghost Rappellent Dance, etc.  You can also see the secret of using  “SUMPIT”, and can take a picture with a woment who has long ears or the famous of beautiful Kenyah girls.

============================================================

Atraksi Budaya tarian ini dapat disaksikan setiap : Hari minggu jam  14.00 -15.00 wita. Bertempat di : Balai Lami Adat Taman Wisata Budaya Pampang, Sei Siring, Samarinda, Kalimantan Timur.  ***Jika Anda sedang berwisata atau melakukan perjalanan di Samarinda rasanya sayang jika moment ini dilewatkan ……!!!!

===> This traditional attraction coul see at :  Sunday, star at 2.00pm until 3.00pm, Place : Balai Lamin Adat, Taman Wisata Budaya Pampang, Sei Siring Samarinda, East Borneo.     *** If  you on travelling in Samarinda, is not Complete before you come to Pampang…..!!!!

===========================================================

Pada hari-hari biasa anda juga bisa mengunjungi Pampang, dan jika anda atau rombongan ingin menyaksikan  Atraksi tarian selain hari minggu, maka anda bisa melakukan request khusus ( dengan biaya tertentu ) .  Silahkan menghubungi pengurus kesenian :  Uyang Ajan-08125886064,  Frans Aso-08192609997,  amai Pujang-085250923853 .

Ingin souvenir buatan tangan masyarakat Dayak Kenyah Pampang ( Mandau, Sampek, Sumpit dll ), tentu hanya bisa didapatkan di Kawasan Wisata Pampang.

Informasi ini dibuat oleh UMA’ DADO’ SUNI ASO  Pampang 2009.Create by. UMA’ DADO’ SUNI ASO Pampang. 2009.