Tarakan bergolak

PAMPANGSUNIASO MENAMPILKAN KUTIPAN TULISAN INI, SEBAGAI BAHAN RENUNGAN BAGI ANAK BANGSA, BAHWA DAMAI ITU LEBIH INDAH. AROGANSI BISA MEMICU KONFLIK DAN PENDERITAAN BERKEPANJANGAN. SEMOGA KITA BISA “BELAJAR”.

Kronologi kerusuhan di Tarakan 26 September 2010 malam yang melibatkan kelompok suku Bugis dan suku Tidung ( dikutip dari beberapa sumber )

Minggu sekitar pukul 22.30 WITA Sdr Abdul Rahmansyah bersama Jay warga Juanta Permai sedang melintas di Perum Korpri Jl Seranai III, Juata Kec Tarakan Utara, Kota Tarakan. Secara tiba-tiba dikeroyok 5 orang tidak dikenal sehingga Abdul Rahmansyah luka-luka di telapak tangan.

Selanjutnya Abdul Rahmansyah pulang ke rumah untuk meminta pertolongan dan diantar pihak keluarga ke RSU Tarakan berobat.

Senin 27 September 2010, pukul 00.30 WITA, Abdullah (56) ayah Abdul Rahmansyah beserta 6 orang keluarga dari Suku Tidung berusaha mencari para pelaku pengeroyokan dengan membawa senjata tajam berupa mandau, parang dan tombak.

Mereka mendatangi sebuah rumah yang diduga sebagai rumah tinggal satu diantara pengeroyok di Perum Korpri Jl Seranai III, Juata, Tarakan Utara Kota Tarakan.

Penghuni rumah yang mengetahui bahwa rumahnya akan diserang segera mempersenjatai diri dengan senjata tajam berupa badik dan parang. Kemudian terjadilah perkelahian antara kelompok Abdullah (warga Suku Tidung) dengan penghuni rumah tersebut (kebetulan warga Suku Bugis Latta). Akibatnya Abdullah meninggal dunia terkena sabetan senjata tajam.

30 menit kemudian terjadi penyerangan di Perum Korpri Jl Seranai III, Tarakan Utara, Kota Tarakan yang dilakukan sekitar 50 orang dari Suku Tidung bersenjata mandau, parang dan tombak. Terjadi pengrusakan terhadap rumah milik Noodin (Warga Suku Bugis Letta).

Pukul 05.30 WITA terjadi lagi aksi pembakaran rumah milik Sarifuddin (Warga Suku Bugis Latta), Warga Perum Korpri Jl. Seranai Rt 20 Kel Juata Permai, Tarakan Utara.

Pukul 06.00 WITA, sekitar 50 orang warga Suku Tidung mencari Bapak Asnah (Warga Suku Bugis Latta), namun berhasil diamankan anggota Brimob.

Pukul 10.00 WITA, massa kembali mendatangi rumah tinggal Noodin (Warga Suku Bugis Latta) dan langsung membakarnya. Selanjutnya terjadi aksi pengrusakan terhadap 4 sepeda motor yang berada di rumah Noodin.

Pukul 18.00 WITA, terjadi pengeroyokan terhadap Samsul Tani (Warga Suku Bugis), Warga Memburungan Rt 15 Kec Tarakan Timur, Kota Tarakan.

Pukul 20.30 WITA hingga 22.30 WITA bertempat di Kantor Camat Tarakan Utara berlangsung pertemuan yang dihadiri untur Pemda setempat seperti Walikota Tarakan, Sekda Kota Tarakan, Dandim Tarakan, Dirintelkam Polda Kaltim, Dansat Brimob Polda Kaltim, Wadir Reskrim Polda Kaltim serta perwakilan dari Suku Bugis dan Suku Tidung.

Hasil pertemuan adalah sebagai berikut :
1. Sepakat untuk melihat permasalahan tersebut sebagai masalah individu.
2. Sepakat untuk menyerahkan kasus tersebut kepada hukum yang berlaku.
3. Segera temukan pelaku.
4. Seluruh kegiatan pemerintahan dan perekonomian berjalan seperti biasa.
5. Elemen masyarakat, tokoh masyarakat dan tokoh agama mendukung upaya penegakkan hukum.
6. Mengatasi akar permasalahan secara tuntas.
7. Tidak menciptakan pemukiman yang homogen.
8. Seluruh tokoh elemen masyarakat memberikan pemahaman kepada warganya agar dapat menahan diri.
9. Peranan pemerintah secara intern terhadap kelompok etnis.

Selasa 28 September 2010 pukul 11.30 WITA, telah diamankan 2 orang yang diduga kuat sebagai pelaku pembunuhan Abdullah yaitu

1. Sdr BAHARUDIN alias BAHAR (20 Thn), berperan pelaku penebas parang.
2. Sdr BADARUDIN alias ADA (16 Thn), berperan membantu.

Namun pada Selasa malam (28 September 2010) pukul 20.21 WITA, terjadi lagi bentrokan warga dan aksi pembakaran terhadap rumah milik H SANI (salah seorang tokoh Suku Bugis Latte Pinrang. Massa yang diperkirakan berjumlah 300 orang melakukan aksi tersebut yang mengakibatkan 1 (satu) rumah terbakar, 2 (dua) korban meninggal dunia atas nama: PUGUT (37) dan MURSIDUL ARMIN, dan 4 luka-luka.

Mabes Polri telah mengirimkan 172 personil Brimob dari Kelapa dua untuk memback up ke Polres Tarakan. Pasukan telah diberangkatkan pukul 04.00 WIB dari Bandara Soekarno Hatta tiba di Tarakan pukul 07.30 WITA. (divhumas Polri)

HASIL PERTEMUAN BEBERAPA PIHAK
1. Sepakat untuk melihat permasalahan tersebut sebagai masalah individu.
2. Sepakat untuk menyerahkan kasus tersebut kepada hukum yang berlaku.
3. Segera temukan pelaku.
4. Seluruh kegiatan pemerintahan dan perekonomian berjalan seperti biasa.
5. Elemen masyarakat, tokoh masyarakat dan tokoh agama mendukung upaya penegakkan hukum.
6. Mengatasi akar permasalahan secara tuntas.
7. Tidak menciptakan pemukiman yang homogen.
8. Seluruh tokoh elemen masyarakat memberikan pemahaman kepada warganya agar dapat menahan diri.
9. Peranan pemerintah secara intern terhadap kelompok etnis.

SUMBER KUTIPAN : TRIBUNNEWS.COM

Published in: Tak Berkategori on September 29, 2010 at 4:02 pm  Tinggalkan sebuah Komentar  
Tags: , , , ,

Pelas tahun 2010 Desa Pampang


Pampaga Dance from Pampang Samarinda

Video terkini dari Desa Pampang kaltim

Sumpit Comanders from Pampang

Salah satu seni tradisional yang bisa disaksikan langsung setiap hari minggu .

Suku Kenyah art of Dayak

Apo kayan, dari udara daerah ini tampak seperti lanskap yang mencolok diantara kerimbunan belantara. Diantara perbukitan, hutan lebat, atap rumah pemduduk tampak memencar. Inilah daerah di ujung utara Kalimantan Timur yang berbatasan langsung dengan Serawak, Malaysia. Terletak di dataran tinggi seluas sekitar 60 km2., Apokayan seperti menutup diri dengan dunia luar. Selain jaraknya amat jauh dengan kota lain, alat transportasi ke Apo Kayan juga tak gampang.

Apo kayan hanya bisa dicapai dari tiga kota : Samarinda, Tarakan dan Tanjung Selor. Dari ketiga tempat ini perjalanan bias dilakukan lewat udara menggunakan peswat berbadan kecil seperti merpati dan cesna milik misionaris. Selain itu transportasi juga bisal dilakukan melalui sungai. Biasanya penduduk melewati sungai Kayan, Namun seringkali mengalami kesulitan, karena dihadang olehRiam Afun – Niagara kecil sepanjang 35 km. Penduduk biasanya lebih memilih jalan melingkar menghindari riam Afun, dengan waktu tempuh lebih lama.

Kehidupan di Apo Kayan sesungguhnya, dapat ditelusuri sepanjang sungai Kayan. Penduduk daerah ini berjumlah sekitar 4700 jiwa, sebagian besar membuat rumah sepanjang tepian sungai.  Isini terdapat dua kecamatan yaitu Kecamatan Kayan Hulu dan Kayan Hilir. Di Kayan Hulu tredapat lima desa yakni Long Ampung, Long Nawang, Long Nawang Baru, Long Temuyat, dan Long Payau. Sedangkan di Kayan Hilir ada tiga desa yakni sei Anai,  Metun I, dan Data Dian.

Rumah rumah tinggal mereka masih khas. Uma Da’du atau Lamin adalah rumah asli peninggalan Dayak Kenyah yang masih utuh. Rumah adat ini dibuat dari kayu ulin, beratap sirap. Lamin di hiasi lukisan daun paku simetris dengan aneka warna. Bentuknya sebagian menyerupai tattoo di tangan kaum wanitanya . Mereka juga dikenal mahir membuat manik-manik dan pemahat handal patung Totem.

Kaum wanitanya cantik-cantik, berkulit putih. Keciali bertatto, mereka juga dapat dikenali dengan saratnya anting gelang ditelinganya. Dalam acara-acara tertentu misalnya pesta perkawinan, mereka kerap nenarikan Burung Enggang dan Tarian Gong. Belakangan tarian ini menjadi komuditas bagi para Turis yang datang ke daerah itu. Pemandangan ini dapat dilihat di desa Long bagun dan Long Iram.

Hubungan kekerabatan mereka mengikuti garis keturunan patrilinial. Dalam satu lamin dapat dijumpai hidup beberapa keluarga, mulai dari orang tua, anak, cucu, sepupu hingga keponakan. Dahulu kala sebuah lamin malah dapat menampung lebih dari 100 KK, sehingga tidak ada bentuk keluarga batih mutlak. Batih baru ada kalau sekiranya pasangan suami istri mau memisahkan diri dari lamin. Namun hal ini jarang dilakukan, karena pertimbangan ekonomi. Sebab, dengan memilih tinggal didalam lamin, segala persoalan dan kebutuhan sehari-hari menjadi tanggung jawab bersama.  Hidup komunal demikian, tentu ada resikonya. Kerahasiaan menjadi kosakata yang nyaris tak mereka kenal. Kerahasiaan personal menjadi demikian tipis, agaknya hanyalah setebal kelambu.

Namun demikian mereka tetap taat pada adat lamin yang sehari-hari dikendalikan oleh kepala adat. Di dalam lami, kepala adapt menempati kamar bagian tengah.  Bagi mereka, kepala adat adalah orang yang dipilih menurut garis keturunan bangsawan, yang dapat melindungi dan berwawasan luas tentang adat setempat. Dalam struktur masyarakat, posisi kepala adat berada dibawah kepala desa. Namun, dalam keseharian, kepala adat tampak lebih dihormati ketimbang kepala desa.

Transportasi darat di daerah ini belum berkembang baik. Mereka lebih menggunakan jalan  setapak sebagai sarana komunikasi darat antara satu rumah atau satu tempat. Alat transportasi populer yang cukup membantu adalah lewat sungai. Mereka menggunakan ketinting (perahu motor) sebagai alat angkut, baik untuk manusia maupun hasil pertanian.

Mata pencaharian mereka memang bertani. Umumnya, sebagai peramu hasil hutan dan peladang berpindah. Perladangan dilakukan dengan sistem rotasi alam selama 4-7 tahun. Di desa Long Payao, Sei Anai, dan Metun I, sistem rotasinya sampai 10 tahun. Inilah, agaknya, mengapa suku Dayak kerap dituding sebagai perusak lingkungan hutan.

Suku dayak Kenyah, yang menjadi penduduk asli Apo Kayan, sebagian besar beragama Kristen dan Katolik. Sebagian kecil, terutama orang tua, masih ada yang animisme. Belakangan, seiring dengan masuknya para pendatang ke daerah ini, pemeluk islam sudah mulai bermunculan. Suku Kenyah  adalah klan besar suku dayak- diantara klan Dayak di Kalimantan, Serawak, dan Sabah di Malaysia. Sebagai pengantar sehari-hari, mereka menggunakan bahasa Kenyah, yang mengenal 14 dialek. Belakangan, munculnya generasi muda suku Kenyah yang mendiami Apo Kayan, bahasa indonesia mulai dikenal.

Klan besar Dayak Kenyah, konon, berasal dari keturunan para pedagang Cina dan suku Barunai (Brunai Darussalam). “Kami berasal dari Sungai Baram, wilayah suku Barunai,” ujar Labu Usad, kepala desa Nawang Baru. Karena sering berperang dengan suku Barunai lainnya, akhirnya berpencar menjadi empat wilayah. Satu diantaranya mendiami Dataran Apo Kayan.

Dalam perkembangannya, Klan ini terbagi menjadi 30 subsuku, yang memiliki nama tersendiri dan masing-masing memiliki kepala adat. Tak jelas, sejak kapan terjadi perpecahan dalam Klan besar ini. Namun, mengapa sampai terjadi perpecahan, itu hanya dapat diterangkan dengan “kata Sahibul Hikayat”.

Alkisah, Batang Laing-salah seorang kepala suku – menugaskan delapan warganya, empat lelaki dan empat wanita, untuk membuat Yunan (alat peras tebu). Yunan adalah syarat meminta restu kepada Dewa Peselong Loan. “Tum ta mita tan ya leka –  Tolonglah kami mencari tanah subur.” Seorang dukun yang memimpin upacara kesurupan, sembari berkata, “A Untana ya suk tana Lurah Tana ya leka ya bileng – Ada tanah yang subur dan luas di lembah lurah yang jauh.”

Nah, petunjuk untuk menemukan “tanah perjanjian” itulah yang memunculkan perbedaan pendapa. Klan besar Kayak Kenyah mengalami pemencaran, sesuai dengan penafsiran masing-masing tentang letak tanah dimaksud, sampai kemudian membentuk kelompok menjadi 30 subsuku. Meski tempat tinggal antar – subsuku ini berpisah, tetap berada dilembah yang sama. Yaitu, membujur sepanjang Apo Kayan – Dataran Tinggi Kayan.

Masing-masing subsuku mempunyai “swing-awing” (keputusan adat tersendiri). Kecuali itu, setiap subsuku memiliki otonomi atas wilayah kerja tersendiri – misalnya atas daerah perburuan, ladang, sebagai hak ulayat masing-masing. Sebelum dataran Apo Kayan dimasuki misionaris, perbedaan antar-subsuku justru memunculkan pertentangan tajam yang berakibat buruk. Misalnya, hanya untuk mempertahankan ego subsuku, mereka tak segan-segan untuk mengayau (memenggal kepala) warga subsuku lain.

Seiring dengan masuknya misionaris, adapt jelek itu mulai hilang. Selain itu, juga karena kejenuhan mereka sendiri atas tingkah laku peperangan yang sadis dan melelahkan. Adalah peserang, kepala subsuku Umaq Tau, yang memprakarsai  pertemuan antar subsuku. Ketika itu, diharuskan mengangkat sumpah bersama,  yaitu sumpah Petutung yang dipimpin  langsung oleh Peserang. Upacara dilangsungkan pagi hari, sembari minum air taring harimau dan babi, semua kepala suku menyatakan tobat. Maksudnya, “Kalau ada yang melanggar, hati, mata dan isi perutnya, akan dimakan harimau dan babi, “ujar Pue Pare, kepala adapt Long Temuyat.

Sejak itulah, warna kehidupan di Apo Kayan mulai bergeser. Peradaban mereka mulai jinak, dan mau diatur. Mereka mulai diliputi impian-impian akan perubahan gaya hidup. Tahun 1960-an, gelombang besar itu benar-benar terjadi. Sebagian penduduk keluar dari Dataran Apo kayan, menuju daerah baru yang relative dekat dan mudah dijangkau dari kota. “saya putuskan berpisah. Kita harus mencari kehidupan baru, “ujar Pelibut, kepala adat Kayak Kenyah Umaq, di Muara Wahau. Sepanjang sejarah eksodus suku Dayak Kenyah, adalah Pelibut yang banyak diikuti pengikut.

Upaya Pelibut dan teman-teman, sebenarnya, ditentang oleh kepala suku lain. Harapan mereka, Apo Kayan tak perlu ditinggalkan. Tetapi apa yang mesti dipertahankan?” Kehidupan sehari-hari di Apo Kayan  susah.Garam saja sulit didapt.”kata Pelibut. Maka, ketika hari belum terang, rombongan Pelibut-yang meliputi anak dan istri serta harta benda – hijrah diam-diam, keluar dari Apo Kayan. Mereka menyusuri Sungai Boh, sambil bercocok tanam. Tak kurang dari setahun perjalanan menempuh hutan, sampai tiba di tempat tinggal sekarang Muara Wahau.

Agaknya, gelombang eksodus ini juga diikuti oleh sejumlah kelompok lain. Ada yang hijrah  menyusuri Sungai Kayan sampai Sungai Oga Long Danum – kini Desa Metulang. Sampai disini, kelompok eksodus ini mengalami perpecahan lagi. Sebagian menuju Lalot Pubong (lumbung di tepi Sungai Nawang) sampai berakhir di Long Nawang.

Konsekuensi pergeseran gaya hidup ini adalah penerimaan berbagai bentuk perubahan dari budaya luar. Berbagai peralatan rumah tangga dan pertanian dari luar mulai dikenal, seiring dengan tersisihnya perlatan tradisional yang sebelumnya mereka miliki. Beberapa penduduk Apo Kayan mulai menantang kehidupan kota. Bahkan, tak sedikit kalangan generasi mudanya yang hijrah ke Samarinda, Tenggarong, Tanjung Selor. Malah, sudah ada yang mengadu nasib ke negeri jiran, sebagai buruh harian. “ Tiga bulan bekerja, saya bisa mengantongi uang sampai 1.000 ringgit”, ujar Amai Juk, yang bekerja di kebun cokelat, Serawak, Malaysia. Akibat banyaknya warga yang mengadu nasib keluar sejak tahun 1988, beberapa kampung kelihatan kosong. Sebut saja Desa Long Ikeng, Long Kelawit, Long Lemiliu, Long Sungan, dan Desa Marung.

Hal ini bisa terjadi karena Apo Kayan adalah gerbang perbatasan antara Indonesia-dan Malaysia. Kalau mau ke negeri sebelah, dapat ditempuh lewat dua jalur. Lewat Sungai Marung di Kecamatan Kayan Hilir, dan melalui hulu sungai Pengian di Kecamatan Kayan Hulu. Jalur Sungai Pengian adalah rute terpendek yang bisa dilewati. Dalam waktu sekitar tiga jam perjalanan dengan perahu dari Long Nawang, kita sudah bisa sampai perbatasan.

Dari Kubu Long Kenyah, jalan kaki selama tiga jam menembus hutan sampailah di Kubu Long  Bulan dan Long Jawi di Serawak. Disini, sudah menunggu kendaraan taksi air milik Ma Laho- pedagang Cina asal Marudi. Kedua jalur ini dapat dilalui hilir-mudik oleh penduduk suku Dayak Kenyah, dan pelintas batas tradisional, tanpa dikenakan ketentuan imigrasi. Hanya dengan mengurus border pass di kecamatan seharga Rp. 500, mereka sudah bisa leluasa bolak-balik pergi dari Serawak ke Apo Kayan.

Apo Kayan, seperti halnya daerah lain di dataran bumi ini, memang tak bisa menghindar dari perubahan. Berbagai bentuk kegiatan penyembahan, misalnya kepada patung, mulai terkikis-menyusul  masuknya misionaris ke daerah itu. Sekolah-sekolah dibangun, kegiatan sosial pun muncul. Tak sedikit generasi baru Apo Kayan yang meneruskan sekolah di jenjang perguruan tinggi di Samarinda. Di antara yang sukses, malah sudah ada yang bekerja di Pemda Kalimantan Timur.

Tinggal kaum tua dan sebagian warga yang mencoba tetap bertahan di Apo Kayan, dengan segala atribut : adat, tradisi, dan agama. Mereka memilih setia pada Apo Kayan, meski bahan pokok sehari-hari relatif mahal ketimbang kota. Toh, akibat pengaruh kaum pendatang, mereka juga mulai mengenal budidaya tanaman keras seperti lada, vanili, kopi- sebagai usaha sampingan. “ Kesulitan kami adalah transportasi, sehingga bahan pokok mahal, “ujar Marcus, pemilik sebuah toko di Long Nawang.

Kecuali itu, pada merekalah, masih dapat dilihat tatto, anting-anting, kerajinan mandau, manik-manik, tarian burung Enggang, dan tarian Gong. Agaknya, memang, tak semuanya mesti berubah.  (oleh frans aso,  foto by hari widjayanti, bram T &frans aso )

Perhatian pemkot Samarinda terhadap sektor pariwisata dan budaya amat diragukan

Seperti telah diketahui bahwa antara negara kita dan  neregi jiran Malaysia sering terjadi ketegangan yang di sebabkan oleh klaim Malaysia atas seni dan budaya Indonesia.  Bila kita cermati sebenarnya pemerintah kita tidak pernah mempersoalkan  claim Malaysia tersebut, pemerintah terkesan enggan dan tidak peduli.

Pemerintah baru akan bereaksi saat terjadi  kemelut di tengah masyarakat, saat terjadi protes-protes dari masyarakat dan kalangan pencinta seni dan budaya.  Inilah kenyataan pahit yang harus ditelan oleh rakyat  Indonesia. Seni dan budaya dianggap sektor yang tidak menghasilkan rupiah, harga diri dan identitas bangsa sudah tidak diperlukan lagi dan dianggap bernilai rendah. Investasi dan bisnis dianggap sebagai dewa.

Demikian pula yang terjadi di kota Samarinda, sebagai warga Samarinda rasanya saya sedih dan prihatin karena kota yang samar samar tapi indah ini, kota yang kaya raya dengan hasil tambang, kota yang kaya raya dengan hasil hutan, kota yang kaya raya dengan hasil perkebunan…. namun……. kota ini tidak beridentitas, seni dan budaya daerah terabaikan bahkan boleh dikatakan tercampakkan….. seni dan budaya tinggal legenda… hanya dipakai sebagai simbol-simbol di berbagai sudut kota.

Para pelaku seni dan budaya dianggap tiada,  dianggap tidak berguna, dan seolah hanya dianggap sebagai pelengkap penderita saja.

Kita bayangkan Desa Adat Budaya Dayak Kenyah Pampang… yang konon menjadi desa binaan dinas pariwisata kota dan konon dijadikan sebagai desa wisata oleh pemerintah kota, namun dalam kenyataannya hanyalah rumor belaka.

Masyarakat Pampang dibiarkan terlunta-lunta, tidak pernah dibina dan dibiarkan tumbuh apa adanya.  Para pelaku seni dan budaya yang dengan tekun melestarikan Adat seni tradisional, terseok dan terlunta berjalan sendirian tanpa arah dan tujuan.

Atraksi seni budaya yang diselenggarakan tiap hari minggu swadaya masyarakat hanya hidup dengan mengandalkan penghasilah dari Tiket masuk seharga Rp 15.000,- , tanpa ada subsidi dari Pemerintah daerah. Dari hasil penjualan tiket tersebut setiap penari yang tampil hanya akan mendapatkan honor sekitar Rp 10.000,-  s/d  Rp 20.000,- per bulan.

Kita bisa membayangkan betapa murahnya nilai seni dan budaya, dimana campur pemerintah untuk mempertahankan identitas bangsanya??, dimana campur tangan pemerintah daerah untuk mempertahankan identitas daerahnya?? Yang lebih menyedihkan lagi dalam kondisi yang amat memprihatinkan tersebut, ternyata dinas pendapatan daerah MASIH TEGA memungut restribusi pajak hiburan terhadap atraksi seni mingguan tersebut!!!!!. Karena keserderhanaan cara berfikir masyarakat Pampang, maka merekapun nurut nurut saja.

Dari kenyataan ini penulis tidak akan mengambil kesimpulan, namun para pembaca bisa menyimpulkan sendiri, seberapa peduli Pemkot Samarinda terhadap pengembangan sektor pariwisata dan budaya.

Negara Jepang yang sudah amat maju dalam ekonomi dan teknologi saja masih amat menjunjung tinggi adat dan budayanya,…. ironis….. kita yang masih hidup di daerah… kiri kanan masih tertutup bukit & pepohonan namun kita sudah lupa akan asal usul kita.

Semoga…semoga….dan semoga….kita tidak dimakzulkan oleh para leluhur kita, semoga kita selalu ingat dan eling dari mana kita berasal…. mari bangun Samarinda… mari bangun Identitas kota….dan menjadi lebih baik… ( oleh : frans aso )

Published in: on Maret 6, 2010 at 6:17 am  Comments (1)  

Kampung EHENG, Kutai Barat…catatan perjalanan

Rabu, 03 Februari 2010  saya bersama 2 orang teman melakukan perjalanan ke Kutai Barat, tujuan utama sih urusan dinas. Namun karena beberapa minggu sebelumnya saya melihat postcard bergambar LAMIN EHENG yang berada di Kutai Barat, maka kesempatan ini tak baik jika disia-siakan, pepatah mengatakan sambil menyelam minum air atau sekali merengkuh dayung 3 pulau terlampaui.

Pertama kami malakukan perjalanan ke Melak, perjalanan darat ke Melak ditempuh dalam waktu 7 jam.

TERING …

Kamis, 04 Februari 2010 kami bergegas untuk urusan kerja menyisir dari Barong Tongkok sampai dengan Tering.  Rupanya di Tering sedang terjadi banjir air pasang Sungai Mahakam, sehingga kami memutuskan untuk tidak meneruskan perjalanan ke Tering sebrang.

Dari Tering kami memutuskan kembali ke Barong Tongkok untuk menyelesaikan urusan pekerjaan.  Setelah urusan pekerjaan selesai, kamipun berputar putar di Barong Tongkok.

LINGGANG MELAPEH …

Dalam perjalanan tersebut secara tidak sengaja kami menemukan sebuah kampung Adat yang didiami warga suku Dayak, setelah bertanya ke beberapa orang kami mendapat informasi bahwa dikampung tersebut terdapat LAMIN Adat yang cukup besar.  Wah, seperti mendapat energi baru, kamipun segera tancap gas meluncur ke kampung tersebut.

Rasa letih dan lelah benar benar sirna saat kami  tiba di kampung yang didalamnya berdiri dengan megah sebuah LAMIN dengan tiang tiang penyangga terbuat dari gelondongan kayu ulin berukir.

Inilah Kampung LINGGANG MELAPEH yang  dihuni oleh warga Dayak dari bermacam macam sub suku.  Tidak mau menyia-nyiakan kesempatan, kami segera berpose untuk berfoto-foto. Disaat kami sedang berfoto-foto , beberapa Amai (Bapak) mendekati kami dan menyapa dengan ramah. Bahkan dengan senang hati menjelaskan keberadaan LAMIN tersebut. Kami mengatakan kepada Amai tersebut bahwa kami berasal dari desa PAMPANG Samarinda, diluar dugaan  ternyata Amai tersebut sudah tahu tentang desa Pampang bahkan beberapa kali pernah datang untuk keperluan adat.

DANAU ACCO …

Setelah beberapa saat kami singgah di Lamin MELAPEH, maka kami minta pamit  untuk melanjutkan perjalanan, namun seorang Amai memberi tahukan kepada kami  adanya sebuah danau yang bagus yang terletak di pinggir kampung Linggang Melapeh. Tanpa pikir panjang, kami segera meluncur ke arah yang ditunjuk Amai tersebut.   Oh.. ternyata masuk hutan, dengan jalan yang extrim ( kata teman saya…), jantung kami mulai berdebar karena rasanya jauh benar kami sudah masuk ke hutan.  Namun tekad kami bulat harus sampai ke danau tersebut, walau masuk hutan kami merasa tenang karena daerah tersebut di diami oleh warga dayak yang dikenal baik.

Kenekatan kami tidak sia-sia, ketika di depan kami terpampang papan nama  berbunyi ” DANAU ACCO”.  Kami segera turun dari mobil dan berhambur ingin melihat di bawah sana…. . Ternyata Luar Biasa ..sebuah Danau Mungil yang menyejukkan hati… silahkan lihat di foto.. Sayang sekali danau sabagus ini belum dipromosikan sebagai daerah tujuan wisata .

EHENG…

Beberapa saat kami bersantai di pinggir danau , tiba tiba gerimis mengundang. akhirnya kami memutuskan meninggalkan danau, maklum disana hanya ada kami bertiga.

Kami melanjutkan perjalanan ke Sendawar untuk mencari kampung EHENG, rupanya cukup mudah mencari kampung EHENG hampir setiap orang di Sendawar mengetahui kampung ini.  Konon di kampung EHENG ini  ada sebuah LAMIN panjang yang masih ditempati oleh warga sub suku Dayak Benuaq. Setelah 20 menit perjalanan, akhirnya sampailah kami didepan LAMIN EHENG. Lega rasanya, rasa penasaran yang lama terpendam, akhirnya terobati.

Kami sempat bertamu dan masuk ke dalam lamin,  diterima dan berbicara lama dengan keluarga yang katanya adalah wakil kepala adat. Sebentar kemudian beberapa penghuni LAMIN lainnya berkerumun menghampiri kami .

Para penghuni lamin disini ramah-ramah dan baik menerima kami, mereka juga bisa berbahasa indonesia walaupun terkadang kami harus mengulang kata demi kata dengan jelas. Menurut wakil kepala adat, LAMIN EHENG di huni oleh sekitar 32 kepala keluarga, dan sudah berdiri sejak tahun 1962. Mata pencaharian kebanyakan dari berladang dan membuat kerajinan.  Kepala adat tidak tinggal di LAMIN namun memiliki rumah tersendiri.

Disela obrolan kami, mereka bertanya asal kami… kami mengatakan bahwa kami datang dari Pampang Samarinda. Mereka mengatakan  tahu juga tentang Pampang, bahkan beberapa orang pernah datang ke Pampang untuk keperluan adat.

Sekian lama kami ngobrol, mata kami mulai melirik ke tumpukan kerajinan tas rotan yang baru saja dikeluarkan dari dalam kamar oleh istri wakil kepala adat tersebut. Tas tersebut unik dan khas, tak ingin menyesal maka kami membeli 4 buah tas sebagai kenangan…

Sayangnya LAMIN EHENG ini tidak dikembangkan sebagai daerah wisata Budaya. Melihat keaslian dan letaknya yang mudah dijangkau,  Lamin Eheng mestinya dapat dikembangkan menjadi Lokasi Wisata Budaya yang menarik.

TAMAN ADAT ….

Kami juga amat kagum dan memberikan acungan dua jempol kepada pemda Kutai Barat , kami melihat sedang dibangun Taman Adat yang amat luas dan megah.  Mestinya pemikiran ini bisa di tiru oleh Pemkot Samarinda…..

Jadi tidak salah jika kami ikut mengatakan untuk KUTAI BARAT ,  Teruskan..!!! “


Panglima Sumpit ada di Bali ? siapa sangka..?

GWK Bali, 12 Januari 2010

Waktu menunjukkan pukul 20.30 wita. Di tengah acara makan malam sebuah perusahaan swasta nasional yang terkemuka, disamping kolam sekelompok pemusik  mulai memainkan musik gamelan khas Bali dengan apik , sambil makan para pengunjung terlihat asyik menikmati alunan musik tersebut.

Sebentar kemudian seorang gadis bali dengan pakaian khas daerah mulai melenggak lenggok dengan gemulai nenarikan tarian khas Bali.  Para pengunjung semakin terpukau dan hanyut dalam alunan musik dan tari, sejurus kemudian mulai terlihat beberapa pengunjung memasuki panggung arena menari, mereka asyik ikut menari bersama gadis penari bali tersebut.

Setelah beberapa lelaki tersebut turun dari panggung, dilanjutkan oleh tampilnya seorang lelaki berbaju batik ke atas panggung, Lelaki tersebut mulai menari dengan gerakan-gerakan khas yang tidak lazim ada di bali, beberapa pengunjung mulai berteriak ..itu tari Dayak.. itu tari Dayak…, laki laki itupun asyik menari dengan iringan musik Bali….

Banyak pengunjung yang kagum dan terheran-heran dengan tarian lelaki tersebut, namun mungkin tak ada satupun yang menyangka Panglima Sumpit bersama mereka.   by. frans aso

Sumpit beracun

Tarian ini belum banyak di ekspos, belum banyak di ketahui bahkan belum menjadi sajian utama dalam atraksi seni budaya Dayak di desa Pampang.  Ibarat menu masakan tari menyumpit/tari berburu ini adalah menu khusus atau menu bonus.  Penyebabnya adalah sebagian besar warga enggan untuk menanpilkan kemahiran menyumpit tersebut dalam sebuah tarian, karena sumpit dianggap sebagai senjata rahasia.

Namun demikian dalam setiap penampilannya, Tari sumpit menjadi tarian yang paling menarik dan membuat detak jantung para pengunjung berdegub kencang.  Kenapa demikian ??? ada baiknya saksikan sindiri, karena tarian ini hanya ada di Desa Pampang.

Tari menyumpit/Tari berburu menceritakan pamuda dayak  dalam membela diri dengan senjata khas yaitu MANDAU,  dilanjutkan dengan kepiawaian berburu di hutan dengan senjata sumpit ( tombak panjang, berlubang didalamnya ).

Pengunjung akan melihat secara langsung bagaimana senjata sumpit di gunakan, bagaimana anak-anak sumpit tersebut bisa menancap pada batang-batang kayu ulin. Kalo lagi beruntung pengunjung akan diminta untuk mencoba meniup sumpit tersebut ke sasaran yang telah disiapkan.

Saksikan petualangan menarik ini hanya di Desa Pampang, Samarinda.  by frans aso

Pesparawi IX, Luar Biasa

IMGA0666Stadion Madya Sempaja Samarinda, minggu 8 Nopember 2009 di padati oleh ribuan warga baik yang berasal dari kota Samarinda maupun berbagai kota di seluruh Indonesia.  Mereka ingin menyaksikan pembukaan Pesta Paduan Suara Gerejawi Nasional ke IX.

Acara berlangsung dengan amat meriah, diantaranya adalah selebrasi peserta dari Papua yang menarik perhatian pengunjung.  IMGA0703Dalam acara pembukaan tersebut ditampilkan tarian kolosal yang amat spektakuler, yang melibatkan warga Dayak dari berbagai sub Suku yang ada di Kaltim antara lain Dayak Kenyah, Dayak Krayan, Dayak Tunjung dll.

Tarian kolosal tersebut dimulai dengan cerita jaman kegelapan dan penyembahan berhala yang dianut warga Dayak pada masa lampau,  dilanjutkan dengan perang antar suku yang sering terjadi dalam kehidupan masyarakat dayak pada masa lampau mengandalkan DSC01376kekuatan kegelapan,dukun-dukun. Namun pada akhirnya kekuatan dukun-dukun tersebut tidak dapat mengalahkan kekuatan Allah.

Pada akhirnya, mereka meninggalkan kekuatan kegelapan dan mengakui kekuatan tertinggi datangnya dari Allah, dan pada akhirnya kehidupan damai mereka dapatkan sampai saat ini.

Dalam tarian kolosan tersebut, sekitar 120 orang muda-mudi warga Suku Dayak Kenyah Pampang ikut serta dengan menyajikan TARI PERANG dibawah komando Martinus Usat..

(oleh frans aso )

 

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.